Thursday, 28 June 2012

KISAH NABI YUSUF a.s.

Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh daripada dua belas putera-puteri Nabi Ya'qub. Ia dengan adiknya yang bernama Benyamin adalah beribukan Rahil, saudara sepupu Nabi Ya'qub. Ia dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara- saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan iaitu wafatnya ibu kandungnya Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun.

Perlakuan yang diskriminatif dari Nabi Ya'qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan bahawa mereka dianak-tirikan oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Yusuf lebih daripada yang lain.

Rasa jengkel mereka terhadap kepada ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan antara saudara-saudara Yusuf, persatuan dan rasa persaudaraan yang akrab di antara mereka. Kisah Nabi Yusuf terdapat dalam satu surah penuh yang juga bernama surah Yusuf. Disebutkan bahawa sebab turunnya surah Yusuf adalah kerana orang-orang Yahudi meminta kepada Rasulullah saw untuk menceritakan kepada mereka kisah Nabi Yusuf. Kisah Nabi Yusuf telah mengalami perubahan pada sebahagiannya dan terdapat penambahan pada sebahagiannya. Lalu Allah s.w.t menurunkan satu surah penuh yang secara terperinci menceritakan kisah Nabi Yusuf.

Allah s.w.t berfirman:

"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahuinya. " (QS. Yusuf: 3)

Para ulama berbeza pendapat dalam hal mengapa kisah ini disebut dengan kisah yang terbaik? Ada yang mengatakan bahawa kisah ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kisah-kisah Al-Qur'an yang lain dilihat dari sisi kandungannya yang memuat berbagai ungkapan dan hikmah. Ada yang mengatakan kerana Nabi Yusuf mengampuni saudara- saudaranya dan bersikap sabar atas tindakan mereka. Ada yang mengatakan lagi bahawa kerana di dalamnya terdapat kisah para nabi dan orang-orang soleh, terdapat juga pelajaran tentang kehormatan diri dan adanya godaan, kehidupan para raja, lelaki dan wanita, tipu daya kaum wanita, di dalamnya juga disebut tentang aspek tauhid dan fiqih, pengungkapan mimpi dan penakwilannya. Di samping itu, ia adalah surah yang penuh dengan peristiwa-peristiwa dan petualangan emosi (perasaan atau cinta). Ada yang mengatakan bahawa ia disebut sebagai kisah yang terbaik kerana semua orang-orang yang disebut di dalamnya pada akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Alhasil, kita percaya bahawa terdapat sebab penting di balik keistimewaan kisah ini. Kisah dalam surah tersebut bermuara dari awal sampai akhir pada satu bentuk di mana Anda akan merasakan adanya kekuasaan Allah s.w.t dan terlaksananya perintah-Nya meskipun banyak manusia berusaha menentangnya:

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. " (QS. Yusuf: 21)

Nabi Yusuf mendapatkan berbagai ujian dalam hidupnya. Beliau menghadapi persekongkolan jahat yang justru datang dari orang-orang yang dekat dengannya, yaitu saudara-saudaranya. Mereka merencanakan untuk membunuhnya. Rencana itu mereka buat saat Yusuf masih kecil. Kemudian Yusuf dijual di pasar budak di Mesir lalu ia dibeli dengan harga yang sangat murah. Kemudian beliau menghadapi rayuan dari isteri seorang lelaki yang memiliki jabatan penting. Ketika ia menolak rayuannya, ia pun dimasukan ke dalam penjara. Dalam beberapa waktu, beliau menjadi tahanan di penjara. Meskipun mendapatkan berbagai kehinaan ini, pada akhirnya beliau mampu menduduki tampuk kepemimpinan di Mesir. Beliau menjadi menteri dari raja yang pertama. Ia memulai dakwahnya di jalan Allah s.w.t dari atas panggung kekuasaan. Ia melaksanakan rencana Allah s.w.t dan menunaikan perintah-Nya. Demikianlah kandungan dari kisahnya.

Kisah tersebut seolah-olah menggambarkan suatu adegan filem yang sangat mengagumkan, episod demi episod. Di samping itu, Anda akan dihadapkan pada satu bahagian dari bahagian-bahagian peristiwa yang membuat Anda tercengang dan cukup mengganggu daya imaginasi Anda. Itu adalah kisah seni yang sangat mengesankan yang tidak mampu diungkapkan oleh seniman mana pun dari kalangan manusia. Pada mulanya kisah itu mengungkap mimpi dan pada akhirnya menakwilkan mimpi ini. Mimpi para nabi pasti selalu berisi kebenaran, di mana Allah s.w.t menyingkapkan di dalamnya berbagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada awal kisah, kita tidak mengetahui bahawa Yusuf adalah seorang Nabi. Begitu juga konteks Al-Qur'an terkesan menyembunyikan nama ayahnya, yaitu Nabi Yakub sebagaimana disampaikan oleh Nabi saw. Jadi, kita berhak untuk merenungkan mimpi tersebut dengan penuh kehairanan. Layar akal pertama-tama menampilkan pemandangan mimpi. Perhatikanlah filem yang dimulai dengan mimpi. Mimpi identik dengan tidur, dan permulaan kisah apa pun yang dimulai dengan tidur tidak terlepas dari rasa ngantuk. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah faktor-faktor daya tarik cerita itu sendiri. Al- Qur'an menceritakan bagaimana Nabi Yusuf menyampaikan mimpinya kepada ayahnya:

"(Ingatlah), Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."' (QS. Yusuf: 4)

Amatilah bentuk tentangan yang diwujudkan oleh adanya mimpi yang membangkitkan daya khayal. Perhatikanlah potensi imaginasi bagaimana ia menjalankan aktivitinya. Sesungguhnya otak manusia merupakan sumber masalah di mana ia menciptakan di dalamnya suatu gambar dari sujudnya matahari, bulan dan bintang. Dengan gambaran mukjizat ini yang menentang imaginasi para ahli seni dan filem, kisah Nabi Yusuf dimulai. Atau, dimulailah video visual dari kisah Nabi Yusuf sebagaimana yang diceritakan oleh Allah s.w.t dalam kitab-Nya. Nabi Yusuf melihat mimpi dan ia sekarang membeberkannya kepada ayahnya:

"Ayahnya berkata: 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'" (QS. Yusuf: 5)

Si ayah mengingatkannya agar jangan sampai ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya. Sesungguhnya saudara-saudara Nabi Yusuf tidak mencintainya dan tidak menyukai kedekatannya dengan ayahnya, dan mereka juga tidak simpati dengan perhatian si ayah padanya. Yusuf bukanlah saudara kandung mereka di mana Nabi Yakub menikahi isteri kedua yang tidak melahirkan baginya anak-anaknya dan lahirlah darinya Yusuf dan saudara kandungnya. Yusuf bin Yakub dan Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Salasilah suci dalam kitaran suci. Ketika mendengar mimpi anaknya, Nabi Yakub merasa bahawa anaknya itu akan mengembang suatu urusan besar, yaitu kitaran kenabian yang berada di sekitarnya. Sebahagian ulama berkata: "Nabi Yakub merasa bahawa Allah s.w.t memilih Yusuf melalui mimpi ini": •

"Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan di ajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari tabir mimpi-mimpi." (QS. Yusuf: 6)

Makna takwil adalah mengetahui akhir dari sesuatu dan kemampuan untuk menyingkap suatu kesimpulan, juga mengetahui rahsia yang belum terjadi. Lalu apa yang dimaksud dengan alhadis? Mereka mengatakan bahawa ia adalah mimpi. Nabi Yusuf akan mampu mentafsirkan mimpi di mana melalui simbol-simbolnya yang tersembunyi, ia mampu melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Ada yang mengatakan bahawa alhadis adalah peristiwa-peristiwa. Nabi Yusuf akan mengetahui kesudahan dari suatu peristiwa, baik dari permulaannya dan akhirannya. Allah s.w.t akan memberikan ilham padanya sehingga ia mengetahui takwil mimpi.

"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)

Pada akhir pembicaraannya, Nabi Yusuf mengembalikan ilmu dan hikmah kepada Allah s.w.t. Sebahagian ulama ada yang mengatakan bahawa ayat tersebut bukan termasuk bahagian dari dialog Nabi Yakub bersama anaknya Yusuf, namun ia merupakan pujian dari Allah s.w.t terhadap Yusuf. Perkataan tersebut dimasukan dalam rangkaian kisah sejak permulaannya, padahal ia bukan bahagian darinya. Jadi, sejak semula Nabi Yusuf dan Nabi Yakub tidak mengetahui takwil dari mimpinya. Kami memilih pendapat ini (pendapat ini dikemukakan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya: Al-Jami' li Ahkamil Qur'an. Kalau begitu, kita memahami dialog dalam bentuk pemahaman yang lain. Sesungguhnya Allah s.w.t menceritakan di sini bagaimana Dia memilih Yusuf. Ini bererti proses kenabian Yusuf, dan bukan mengajarinya untuk menakwilkan mimpi serta memberitahunya tentang hakikat simbol-simbol yang ada dalam kehidupan atau dalam mimpi, selain mukjizat-mukjizatnya sebagai seorang nabi. Dan Allah s.w.t Maha Mengetahui kepada siapa agamanya diserahkan. Nabi Yakub mendengarkan mimpi anaknya dan mengingatkannya agar jangan menceritakannnya kepada saudara- saudaranya. Yusuf memenuhi permintaan ayahnya. Ia tidak menceritakan pada saudara-saudaranya apa yang dilihatnya. Yusuf berprasangka bahawa mereka membencinya sampai pada batas di mana sulit baginya untuk merasa nyaman bersama mereka, dan kemudian menceritakan kepada mereka rahsia-rahsianya yang khusus dan mimpi-mimpinya. Tersembunyilah penampilan Nabi Yakub dan anaknya, lalu layar filem menampilkan kejadian lain, yaitu saudara-saudara Nabi Yusuf yang membuat persengkokolan:

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita ada dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia he suatu (daerah yang tidak di kenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang di antara mereka berkata: 'Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dalam telaga, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat. " (QS. Yusuf: 7-10)

Di dalam lembaran-lembaran perjanjian lama disebutkan bahawa Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Tidak terdapat isyarat Al-Qur'an yang menunjukkan hal itu. Kalau memang demikian, nescaya saudara-saudaranya akan menceritakan hal itu dan kedengkian mereka akan semakin bertambah sehingga mereka segera membunuhnya. Yusuf percaya dengan pesan ayahnya dan ia tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Meskipun demikian, saudara-saudaranya tetap merencanakan konspirasi dan niat jahat padanya. Salah seorang mereka berkata: "Mengapa ayah kita lebih mencintai Yusuf daripada kita?" Saudara yang kedua berkata: "Barangkali kerana ketampanannya." Saudara ketiga berkata: 'Yusuf dan saudaranya kedua-duanya mendapat tempat di hati ayahnya." Saudara yang pertama berkata: "Sungguh ayah kita telah sesat." Salah seorang mereka mengusulkan sebuah solusi: "Kalau begitu bunuhlah Yusuf." "Mengapa kita membunuhnya? lebih baik kita membuangnya di bumi yang jauh. Mengapa kita tidak membunuhnya, lalu kita merasa tenang." Salah seorang di antara mereka berkata: "Mengapa ia harus dibunuh? Apakah kalian ingin menghindar darinya? Kalau begitu, lebih baik kita membuangnya ke dalam telaga yang di situ menjadi tempat lewatnya para kafilah. Maka kafilah itu akan mengambilnya dan membawanya ke tempat yang jauh sehingga ia jauh dari wajah ayahnya. Dengan jauhnya Yusuf, maka tujuan kita tercapai. Kemudian setelah itu, kita bertaubat dari kejahatan kita dan kita kembali menjadi orang-orang yang baik."

Dialog tersebut terus berlanjut setelah timbul ide untuk memasukan Yusuf ke telaga. Namun mereka tetap kembali pada ide-ide itu kerana ia dianggap sebagai ide yang paling aman. Ide untuk membunuh diurungkan. Kemudian timbullah ide untuk menjauhkan dan membuang Yusuf. Itu dianggap ide yang paling cemerlang. Dari sini kita memahami bahawa saudara-saudara Yusuf, meskipun kejahatan mereka dan kedengkian mereka sangat kental, namun dalam had mereka masih tersisa titik-titik kebaikan. Akhirnya, ide untuk membuangnya ke telaga diputuskan. Kemudian mereka sepakat untuk melaksanakan rencana itu:

"Mereka berkata: 'Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkan dia pergi bersama kami esok pagi, agar ia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.' Berkata Yakub: 'Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkankanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya. Mereka berkata: 'Jika ia benar- benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.'" (QS. Yusuf: 11-14)

Terjadilah dialog antara mereka dan ayahnya dengan penuh kelembutan dan dendam yang tersembunyi. Mengapa engkau tidak merasa aman ketika kami pergi dengan Yusuf? Apakah Yusuf dapat menjadi saudara kandung kami, lalu mengapa engkau khawatir kepada kami jika kami membawanya. Bukankah kami mencintainya dan nanti akan menjaganya. Mengapa engkau tidak membiarkannya pergi bersama kami besok untuk bersenang-senang dan bermain. Bukankah ketika ia pergi dan main-main, itu dapat menghiburnya? Lihatlah wajahnya tampak pucat kerana ia sering berdiam di rumah, seharusnya ia harus bermain agar tampak ceria. Masalahnya adalah, Yakub khawatir terhadap serigala-serigala gurun. Apakah yang dimaksud Yakub adalah serigala-serigala yang ada dalam diri mereka atau serigala-serigala hakiki, yaitu binatang yang buas? Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Mereka membujuk ayahnya agar mengizinkan Yusuf pergi dengan mereka. Akhirnya, mereka berhasil meyakinkan ayahnya yang sangat khawatir kalau-kalau Yusuf dimakan oleh serigala. Apakah ini masuk akal? Kami sepuluh orang laki-laki, maka mana mungkin kami yang banyak ini lalai darinya? Sungguh kami akan kehilangan sifat kejantanan kami seandainya terjadi peristiwa itu. Kami jamin bahawa tidak ada seekor serigala pun yang akan memakannya. Kerana itu, tidak ada yang perlu dikhuatirkan. Si ayah berdiri di bawah tekanan anak-anaknya. Mereka pun berhasil menemani Yusuf pada hari berikutnya dan pergi dengannya ke gurun. Mereka menuju tempat yang jauh yang belum pernah mereka berjalan sejauh itu. Mereka mencari telaga yang di situ sering dilewati oleh para kafilah dan mereka berencana untuk memasukan Yusuf ke dalam telaga itu. Allah s.w.t mengilhamkan kepada Yusuf bahawa ia akan selamat, maka ia tidak perlu takut. Allah s.w.t menjamin bahawa Yusuf akan bertemu dengan mereka pada suatu hari dan akan memberitahu mereka apa yang mereka lakukan kepadanya.

Selesailah satu adegan dan akan dimulai adegan yang lain. Kita bisa membayangkan bahawa Yusuf sempat melakukan perlawanan kepada mereka namun mereka memukulinya dan mereka memerintahnya untuk melepas bajunya, lalu mereka menceburkannya ke dalam telaga dalam keadaan telanjang. Kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepadanya bahawa ia akan selamat dan kerananya ia tidak perlu takut. Di dalam telaga itu terdapat air, namun tubuh Nabi Yusuf tidak terkena hal yang membahayakan. Ia sendirian duduk di telaga itu, kemudian ia bergantungan dengan batu:

"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Yakub berkata: 'Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'" (QS. Yusuf: 16- 18)

Peristiwa ini terjadi di malam yang gelap. Tetapi kegelapan itu segera dipecah oleh tangisan sepuluh orang lelaki. Sementara itu, si ayah duduk di rumahnya lalu anak-anaknya masuk menemuinya di tengah-tengah malam di mana kegelapan malam menyembunyikan kegelapan had dan kegelapan kebohongan yang siap ditampakkan. Nabi Yakub bertanya: "Mengapa kalian menangis? Apakah terjadi sesuatu pada kambing? Mereka berkata sambil meningkatkan tangisannya:

"Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan pernah percaya kami, walaupun kami adalah orang-orang yang benar. " (QS. Yusuf: 17)

"Setelah kembalinya kita dari adu lari, kita dikejutkan ketika melihat Yusuf telah berada di perut serigala. Kita tidak menemukan Yusuf. Mungkin engkau tidak percaya kepada kami meskipun kami jujur, tetapi kami menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak berbohong kepadamu. Sungguh Yusuf telah dimakan oleh serigala. Inilah pakaian Yusuf. Kita menemukan pakaian Yusuf berlumuran darah sedangkan Yusuf tidak kita temukan:

"Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. " (QS. Yusuf: 18)

Mereka menyembelih kambing atau rusa lalu melumurkan darah palsu ke pakaian Yusuf. Mereka lupa untuk merobek-robek pakaian Yusuf. Mereka malah membawa pakaian sebagaimana biasanya (masih utuh) tetapi hanya berlumuran darah. Mereka melemparkan pakaian Yusuf di depan ayahnya yang saat itu sedang duduk. Nabi Yakub memegang pakaian anaknya. Lalu ia mengangkat pakaian itu dan memperhatikannya di bawah cahaya yang terdapat dalam kamar. Ia membalik-balikkan baju itu di tangannya namun ia mendapatinya masih utuh dan tidak ada tanda- tanda cakaran atau robek. Serigala apa yang makan Yusuf? Apakah ia memakannya dari dalam pakaian tanpa merobek pakaiannya? Seandainya Yusuf mengenakan pakaiannya lalu ia dimakan oleh serigala, nescaya pakaian tersebut akan robek. Seandainya ia telah melepas bajunya untuk bermain dengan saudara-saudaranya, maka bagaimana pakaian tersebut dilumuri dengan darah sementara saat itu ia tidak menggunakan pakaian? Melalui bukti-bukti itu, Nabi Yakub mengetahui bahawa mereka berbohong. Yusuf tidak dimakan oleh serigala. Si ayah mengetahui bahawa mereka berbohong. Ia mengungkapkan hal ini dalam perkataannya:

"Yakub berkata: 'Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'" (QS. Yusuf: 18)

Demikianlah perilaku nabi yang bijaksana. Ia meminta agar diberi kesabaran dan memohon pertolongan kepada Allah s.w.t atas apa yang mereka lakukan terhadap anaknya. Selanjutnya, terdapat kafilah yang berjalan menuju ke Mesir, yaitu satu kafilah besar yang berjalan cukup jauh sehingga dinamakan sayyarah. Semua kafilah itu menuju ke telaga. Mereka berhenti untuk menambah air. Mereka menghulurkan timba ke telaga. Lalu Yusuf bergelantungan dengannya. Orang yang menghulurkannya mengira bahawa timbanya telah penuh dengan air lalu ia menariknya. Tiba-tiba, "Oh ini anak kecil." Di zaman itu ditentukan bahawa siapa yang menemukan sesuatu yang hilang, maka ia akan memilikinya. Demikianlah undang-undang yang ditetapkan saat itu. Mula- mula orang yang menemukannya gembira tetapi ia berfikir tentang tanggung jawab yang harus dipikulnya, dan kemudian timbullah rasa khawatir dalam dirinya. Kemudian untuk menghindar darinya ia menetapkan untuk menjualnya saat ia tiba di Mesir. Akhirnya, ketika ia sampai di Mesir ia segera menjualnya di pasar budak dengan harga yang sangat murah di mana ia dibeli oleh seorang lelaki yang mempunyai kepentingan dengannya:

"Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: 'Oh; khabar gembira, ini seorang anak muda!' Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: 'Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi ia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.' Dan demikianlah Kami berikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir) dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. " (QS. Yusuf: 19-21)

Perhatikanlah bagaimana Allah s.w.t mengungkap kandungan cerita yang jauh pada permulaannya: "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. "

Yusuf benar-benar diuji dengan ujian yang berat. Ia dimasukkan dalam telaga, ia dihinakan, ia dijauhkan dari ayahnya, ia diambil dari telaga lalu menjadi budak yang dijual di pasar, ia dibeli oleh seorang lelaki dari Mesir lalu menjadi seseorang yang dimiliki oleh lelaki itu. Demikianlah cerita demi cerita telah dialaminya. Yusuf tampak tidak memiliki daya dan upaya. Demikianlah prasangka manusia mana pun tetapi hakikat selalu berlawanan dengan prasangka. Yang dapat kita bayangkan adalah bahawa itu adalah sebuah tragedi, ujian, dan fitnah. Allah s.w.t pasti memenangkan urusan-Nya. Dia akan memuluskan langkah-Nya meskipun banyak orang yang berusaha menghentikannya. Allah s.w.t akan mewujudkan janji-Nya dan akan menggagalkan kejahatan orang lain. Allah s.w.t telah menjanjikan kepada Yusuf bahawa ia akan dijadikan Nabi.

Yusuf mendapatkan tempat di hati seseorang yang membelinya, yaitu seorang bangsawan yang berkata kepada isterinya: "Hormatilah ia, kerana barangkali ia bermanfaat bagi kita atau kita dapat menjadikannya sebagai anak." Lelaki ini bukanlah orang sembarangan tetapi ia seorang yang penting. Ia termasuk seseorang yang berasal dari pemerintah yang berkuasa di Mesir. Kita akan mengetahui bahawa ia adalah seorang menteri di antara menteri-menteri raja. Seorang menteri yang penting yang Al-Qur'an menyebutnya dengan istilah al-Aziz. Orang-orang Mesir kuno terbiasa untuk menyebutkan sifat seperti nama atau identik dengan nama terhadap para menteri. Misalnya, mereka mengatakan: Ini adalah al-Aziz (orang yang mulia), ini adalah al-'Adil (orang yang adil), ini adalah al-Qawi (orang yang kuat), dan seterusnya. Alhasil, pendapat yang paling kuat adalah, bahawa al-Aziz ini kepala menteri di Mesir.

Demikianlah Allah s.w.t menguatkan Yusuf di muka bumi. Ia terdidik di masa kecil di rumah seorang lelaki yang berkuasa dan Allah s.w.t akan mengajarinya takwil mimpi. Dan pada suatu hari, raja akan membutuhkannya untuk menduduki jabatan di Mesir. Allah s.w.t akan memenangkan urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Semua itu terwujud melalui suatu ujian berat yang dialami oleh Yusuf. Nabi Yusuf adalah orang yang paling tampan di masanya, di mana wajahnya mengundang decak kagum orang yang melihatnya. Sikapnya yang sopan dan penuh dengan keanggunan moral semakin menambah ketampanannya. Hari demi hari berlalu. Yusuf pun semakin tumbuh besar:

"Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 22)

Yusuf diberi kemampuan untuk mengendalikan suatu masalah dan ia diberi pengetahuan tentang kehidupan dan peristiwa-peristiwanya. Ia juga diberi metode dialog yang dapat menarik simpati orang yang mendengarnya. Yusuf diberi kemuliaan sehingga ia menjadi peribadi yang agung dan tak tertandingi. Tuannya mengetahui bahawa Allah s.w.t memuliakannya dengan mengirim Yusuf padanya. Ia mengetahui bahawa Yusuf memiliki kejujuran, kemuliaan, dan istiqamah (keteguhan) lebih dari siapa pun yang pernah ditemuinya dalam kehidupan.

Sementara itu, isteri al-Aziz selalu mengawasi Yusuf. Ia duduk di sampingnya dan berbincang-bincang bersamanya. Ia mengamati kejernihan mata Yusuf. Lalu ia bertanya kepadanya dan mendengarkan jawapan dari Yusuf. Akhirnya, kekagumannya semakin bertambah pada Yusuf. Al-Qur'an melukiskan kisah terakhir dari perjalanan cinta ini di mana si wanita itu mulai menggunakan siasat dan taktik untuk memperdaya Yusuf:

"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata: 'Marilah ke sini.' Yusuf berkata: 'Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikan dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba yang terpilih. " (QS. Yusuf: 23-24)

Al-Qur'an tidak menyebut sedikit pun tentang berapa usia wanita itu dan berapa usia Yusuf. Kita dapat mengamati hal itu hanya dengan perkiraan. Ia menghadirkan Yusuf saat beliau masih kecil dari telaga. Dia adalah seorang isteri yang misalnya berusia dua puluh tiga sementara Yusuf berusia dua belas tahun. Setelah tiga belas tahun, ia berusia tiga puluh enam sementara Yusuf berusia dua puluh lima. Apakah peristiwa itu memang terjadi di usia ini? Boleh jadi memang demikian. Tindakan wanita itu dalam peristiwa itu dan peristiwa sesudahnya menunjukkan bahawa ia wanita yang sudah matang dan cukup berani. Peristiwa ini yang diungkapkan oleh Al-Quran al-Karim merupakan puncak dari peristiwa-peristiwa yang lalu yang sangat mengganggu daya imaginasi kita.

Sungguh isteri al-Aziz sangat mencintai Yusuf. Ia merayunya dengan cara terang-terangan lalu ia menutup pintu-pintu sambil berkata: "Hai Yusuf kemarilah kau ke sini. Kali ini engkau tidak akan dapat lari dariku." Ini bererti bahawa terdapat peristiwa sebelumnya di mana Yusuf dapat menghindar darinya. Peristiwa sebelumnya tidak disampaikan dengan cara terang-terangan seperti ini. Yusuf telah terdidik di istana seorang menteri besar di Mesir. Anda bisa membayangkan bagaimana Yusuf tinggal di lingkungan yang mewah yang dikelilingi dengan wanita-wanita cantik. Yusuf adalah seorang pemuda yang dibeli oleh suaminya dan menjadi budaknya. Ia memanggilnya di tempat tidurnya dan memerintahkannya untuk menghadirkan gelas minuman, misalnya. Atau tampak padanya bajunya yang tipis atau ia menampakkan padanya kecantikannya atau ia merayunya dengan rayuan yang biasa dilakukan oleh kaum wanita terhadap kaum lelaki.

Bayangkanlah semua ini di mana mereka berdua selama beberapa tahun tinggal di satu rumah dan di bawah satu atap. Wanita itu menggoda Yusuf dan merayunya, sementara Yusuf masih bertahan dengan ketakwaannya. Wanita itu terbelenggu dengan hawa nafsunya. Kemudian datanglah hari yang terakhir. Wanita itu bosan dengan sikap tidak peduli ini dan sikap pura-pura tidak tahu ini. Ia menentukan untuk mengubah rencananya. Ia tidak lagi menggunakan bahasa isyarat dia lebih memilih bahasa terang-terangan. Ia menutup semua pintu dan menyobek cadar rasa malu dan ia menjelaskan cintanya kepada Yusuf.

Barangkali ia berkata kepada Yusuf: 'Yusuf, alangkah tampan wajahmu." Dan barangkali Yusuf akan berkata demikian: "Tuhanku menggambarkan aku sebelum aku diciptakan." Wanita itu berkata sambil mendekati Yusuf: "Yusuf, alangkah halusnya rambutmu." Yusuf berkata: "Ia adalah sesuatu yang pertama kali hancur dariku saat aku berada dalam kuburan." Wanita itu berkata: "Alangkah jernih kedua matamu." Yusuf berkata: "Dengan keduanya aku melihat apa yang diciptakan oleh Tuhanku." Wanita itu berkata: "Bukankah aku adalah sesuatu yang diciptakan oleh Tuhanmu? Angkatlah pandangan matamu dan lihatlah wajahku." Yusuf berkata: "Aku takut pada hari kiamat." Wanita itu berkata: "Aku mendekat padamu tetapi engkau malah menjauh dariku." Yusuf berkata: "Aku ingin mendekat pada Tuhanku." Wanita itu berkata: "Aku telah dikuasai oleh perasaan cinta padamu. Aku menjadi bahagian dari udara yang aku hirup dan yang aku bernafas darinya. Engkau tidak akan lari dariku." Yusuf mengetahui bahawa ia mengajaknya untuk mendekati, lalu beliau berkata: "Aku berlindung kepada Allah s.w.t. Aku meminta ampun kepada Allah s.w.t Yang Maha Agung. Tuhan Pencipta alam semesta telah memuliakan aku dengan rumah ini, dan pemilik rumah ini telah memuliakan aku dengan kepercayaannya. Maka siapakah yang aku khianati? Dan keselamatan apa yang aku harapkan bagi diriku jika aku memang melakukan apa yang engkau inginkan." Allah s.w.t berfirman: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikan dia tidak melihat tanda (dan) Tuhannya."

Para ahli tafsir sepakat tentang keinginan wanita itu untuk melakukan maksiat, sedangkan mereka berselisih pendapat tentang hasrat yang ada pada Nabi Yusuf. Ada yang mengatakan bahawa wanita itu memang ingin melakukan maksiat dengannya dan Yusuf pun memiliki perasaan yang sama, namun ia tidak sampai melakukannya. Ada yang mengatakan lagi bahawa wanita itu berhasrat untuk menciumnya dan Yusuf berhasrat untuk memukulinya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahawa hasrat ini memang terdapat di antara mereka sebelum terjadinya peristiwa ini. Ia merupakan gerakan jiwa yang terdapat dalam diri Yusuf saat beliau memasuki alam remaja kemudian Allah s.w.t memalingkannya darinya. Dan sebaik-baik tafsir yang cukup menenangkan saya bahawa di sana terdapat pendahuluan dan pengakhiran dalam ayat tersebut.

Abu Hatim berkata: "Aku membaca bahagian yang unik dari Al-Qur'an pada Abu Ubaidah dan ketika aku sampai pada firman-Nya": "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu,"

Abu Ubaidah berkata: "Ini berdasarkan pendahuluan dan pengakhiran. Dengan pengertian bahawa wanita itu benar-benar cenderung pada Yusuf, dan seandainya Yusuf tidak melihat tanda kebenaran dari Tuhannya nescaya ia pun akan cenderung padanya. Saya kira tafsir ini sesuai dengan kemaksuman para nabi sebagaimana ia juga sesuai dengan konteks ayat yang datang sesudahnya": "Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba yang terpilih."

Ayat tersebut menetapkan bahawa Nabi Yusuf termasuk hamba-hamba Allah s.w.t yang ikhlas, pada saat yang sama menetapkan juga kebebasannya dari pengaruh kekuasaan setan. Allah s.w.t berkata kepada Iblis pada hari penciptaan:

"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-arang yang sesat. " (QS. al-Hijr: 42)

Selama Yusuf termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, maka ia akan tersucikan dari berbagai dosa. Ini tidak bererti bahawa Yusuf sunyi dari perasaan kejantanan dan ini juga tidak bererti bahawa Yusuf berada dalam kesucian para malaikat di mana mereka tidak terpengaruh dengan daya tarik materialis (bendawi). Namun ini bererti bahawa beliau menghadapi godaan yang cukup lama dan beliau mampu untuk melawannya, dan jiwanya tidak cenderung padanya. Kemudian beliau dibimbing dan ditenangkan oleh ketakwaannya yang mampu melihat tanda-tanda kebenaran dari Tuhannya. Apalagi Yusuf adalah putera Yakub, seorang Nabi, putera Ibrahim, kakek para Nabi dan kekasih Allah s.w.t.

Terjadilah perkembangan pergelutan antara mereka berdua. Dialog telah berkembang dari bahasa lisan menuju bahasa tangan. Isteri menteri itu menghulurkan tangannya kepada Yusuf dan berusaha untuk memeluknya. Yusuf berputar dalam keadaan pucat wajahnya dan berlari menuju ke pintu. Lalu ia dikejar oleh wanita itu dan wanita itu menarik-narik pakaiannya seperti orang tenggelam yang memegang perahu. Kedua- duanya sampai ke pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka namun suaminya datang bersama salah satu kerabatnya:

"Dan keduanya berlumba-lumba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu." (QS. Yusuf: 25-29)

Wanita yang sedang mabuk cinta kepada Yusuf itu melihat suaminya muncul di tengah-tengah peristiwa itu, ia segera menggunakan kelicikannya. Jelas sekali bahawa di sana terdapat pergelutan. Yusuf tampak gementar dengan penuh rasa malu dan butiran-butiran keringat mengalir dari keningnya. Sebelum suaminya membuka mulutnya untuk mengawali pembicaraan, wanita itu mendahuluinya dengan melontarkan tuduhan kepada Yusuf: "Wanita itu berkata: 'Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?'"

Ia menuduh Yusuf telah merayunya. Ia mengatakan bahawa Yusuf berusaha memperkosanya. Yusuf memandangi wanita itu dengan kepolosan dan kesabaran. Sebenarnya Yusuf berusaha menyembunyikan rahsia wanita itu namun ketika ia mulai menuduhnya Yusuf terpaksa mempertahankan dirinya. "Yusuf berkata: 'Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)."

Kini giliran si suami untuk menunjukkan reaksinya. Kami kira ia berkata: "Pelankanlah suara kalian berdua. Sesungguhnya di rumah ini terdapat banyak budak dan pembantu. Ini adalah masalah khusus." Kepala menteri itu adalah seorang tua yang terkesan tenang dan tidak gampang emosi. Peristiwa ini terjadi di kalangan kelompok masyarakat yang bergaya hidup mewah, bukan kaum tradisional sehingga mereka cenderung menggunakan cara-cara yang bijak dan terbaik dalam menyelesaikan masalah. Kemudian kepala menteri itu duduk dan mulai mengusut kejadian itu. Ia bertanya kepada isterinya dan juga bertanya kepada Yusuf. Kemudian orang yang ada di dekat wanita itu berkata: "Sesungguhnya kunci persoalan ini terletak pada pakaian Yusuf. Jika pakaiannya robek dari depan, maka ini bererti Yusuf memang ingin memperkosanya. Wanita itu akan merobek pakaian Yusuf untuk mempertahankan dirinya."

Si suami berkata: "Lalu bagaimana jika pakaiannya robek dari belakang." Seorang penengah dari keluarganya berkata: "Maka ini bererti wanita itu yang merayunya. Jadi kunci dari peristiwa ini ada pada pakaian Yusuf." Akhirnya, pakaian itu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Kemudian seorang penengah dari keluarganya mengamati pakaian itu, lalu ia mendapatinya dalam keadaan robek dari belakang. Selanjutnya, kepala menteri itu pun melihatnya dan ia juga mendapatinya dalam keadaan robek dari belakang. Maka secara otomatis tuduhan itu dibalikkan pada si isteri. Allah s.w.t menceritakan peristiwa ini dalam firman-Nya: "Dan seorang saksi keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: 'Jika baju gamisnya itu koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang berdusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.' Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf terkoyak di belakang berkatalah ia: 'Sesungguhnya (kejadian) itu adalah tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.'"

Ketika si suami memastikan pengkhianatan isterinya, ia tampak tenang- tenang saja dan tidak menunjukkan emosi yang berlebihan, bahkan ia tidak berteriak dan tidak marah. Aturan kelompok terpandang saat itu memaksanya untuk menyikapi suatu persoalan dengan penuh ketenangan dan kelembutan. Ia berkata: "Sesungguhnya ini adalah bahagian dari tipu daya kalian, hai para wanita." Ia mengisbatkan apa yang dilakukan oleh isterinya kepada tipu daya yang umumnya dikerjakan oleh para wanita. Ia menegaskan bahawa tipu daya perempuan umumnya sangat besar (berbahaya). Kemudian ia menoleh pada Yusuf sambil berkata: "Hai Yusuf berpalinglah dari masalah ini. Lupakanlah masalah ini dan janganlah engkau terlalu peduli dengannya serta jangan pula engkau menceritakannya. Inilah yang penting, yaitu menjaga hal-hal yang telah terjadi. Kami tidak ingin masalah ini akan mencuat ke permukaan."

Kemudian si suami merasa bahawa ia belum mengatakan sesuatu pun kepada isterinya selain penyataannya yang berhubungan dengan tipu daya kaum wanita secara umum. Ia ingin berkata kepada isterinya tentang sesuatu yang khusus. Ia berusaha untuk bersikap keras pada isterinya tetapi kekerasan itu berakhir dengan kelembutan yang terwujud dalam ucapannya: "Dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, kerana kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah. "

Setelah pernyataan yang pertama dan nasihat yang terakhir, si suami mengakhiri masalah tersebut, lalu Yusuf pun pergi. Tuan rumah itu tidak meminta perincian atau kronologis peristiwa yang terjadi antara isterinya dan pemuda yang mengabdi padanya. Yang ia minta adalah agar pembicaraan ini ditutup sampai di sini saja. Tetapi masalah ini sendiri meskipun terjadi di kalangan masyarakat yang terpandang tidak dapat begitu saja di tutup. Alhasil, masalah tersebut akhirnya tersebar kemana- mana. Peristiwa itu tersebar dari satu istana ke istana-istana penguasa saat itu. Kemudian wanita-wanita yang tinggal di istana itu mulai ramai- ramai menjadikannya sebagai bahan cerita. Kemudian masalah itu pun tersebar di penjuru kota:

"Dan wanita-wanita di kota berkata: 'Isteri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangan itu adalah sangat mendalam, Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata. " (QS. Yusuf: 30)

Di sini kita mengetahui bahawa yang dimaksud wanita dalam kasus roman itu adalah isteri dari al-Aziz dan bahawa laki-laki itu yang membeli Yusuf dari Mesir itu adalah seorang menteri di Mesir, yakni seorang pembesar atau tokoh atau ketua dari para menteri. Barangkali ketika membeli Yusuf, ia masih menjadi menteri biasa lalu setelah itu ia naik jabatan. Dan sekarang ia menjadi kepala menteri di Mesir.

Akhirnya berita tersebut berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain, dan dari satu rumah ke rumah yang lain sehingga sampailah berita itu ke telinga isteri al-Aziz. Barangkali dikatakan kepadanya: "Penduduk kota banyak yang membicarakan kisah romantismu." la berkata: "Kisah romantisku dengan siapa?" Dikatakan padanya: "Dengan Yusuf." Ia berkata: "Aku memang tidak dapat memungkiri bahawa aku mencintainya." Dikatakan kepadanya: "Semua isteri menteri membicarakan tentang kecenderunganmu padanya." Ia berkata: "Apa yang mereka katakan?" Dikatakan kepadanya: "Sungguh engkau berada di dalam kesesatan yang nyata." Ia berkata mulai tampak emosinya: "Kesesatan apa? Siapa yang mengatakan bahawa aku tersesat. Tidakkah wanita-wanita itu pernah melihat bagaimana si Yusuf? Apakah mereka mengetahui daya tariknya? Siapa mereka itu yang mengatakan demikian? Sebutkanlah padaku nama-nama wanita-wanita yang banyak bicara itu."

Isteri al-Aziz terdiam sebentar dan tampaknya ia sedang berfikir. Kemudian ia telah menetapkan sesuatu dan memerintahkan untuk mendatangkan para juru masak. Akhirnya, para juru masak datang ke istana. Ia memberitahu mereka bahawa ia akan menyiapkan suatu jamuan besar di istana. Ia telah memilih berbagai macam hidangan dan minuman. Ia telah memerintahkan agar diletakkan pisau-pisau yang tajam di sebelah buah-buah apel yang dihidangkan, dan hendaklah juga diletakkan kain putih di sebelah wadah atau piring-piring yang di situ diletakkan apel, juga diletakkan bantal-bantal yang memang saat itu menjadi tradisi masyarakat timur. Kemudian ia mengundang kaum hawa yang membicarakan petualangan cintanya dengan Yusuf. Akhirnya, datanglah hari jamuan itu. Wanita-wanita dari kalangan masyarakat elit segera berdatangan menuju ke istana kepala menteri. Isteri al-Aziz memanfaatkan acara itu sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan seorang pemuda yang paling tampan dan paling mengagumkan.

Undangan tersebut dibatasi hanya di kalangan wanita sehingga mereka lebih leluasa dan lebih bebas untuk mendengarkan cerita dan untuk mengobrol. Mereka duduk dan bersandar di atas bantal-bantal sambil makan dan minum. Pesta jamuan itu terus berlangsung di mana dihidangkan di atasnya makanan yang istimewa dan minuman yang dingin dan sangat menyenangkan orang yang melihatnya.

Tempat pesta itu dipenuhi dengan berbagai macam komentar dan berbagai macam canda tawa. Kami kira bahawa setiap wanita yang hadir di tempat itu sengaja menahan lidahnya agar jangan sampai menyentuh kisah Yusuf. Sebenarnya mereka semua mengetahui peristiwa yang terjadi antara Yusuf dan wanita perdana menteri itu, tetapi mereka sengaja menyembunyikannya seakan-akan mereka tidak mengetahuinya. Demikianlah aturan main yang biasa dipegang oleh kalangan elit dari masyarakat saat itu. Namun, isteri al-Aziz, sebagai tuan rumah, justru menggugah mereka dan ia justru membuka persoalan tersebut: "Aku mendengar ada wanita-wanita yang mengatakan bahawa aku jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Yusuf." Tiba-tiba keheningan yang menyelimuti meja makan itu runtuh dan tangan-tangan para undangan nyaris lumpuh. Isteri al-Aziz benar-benar mencuri kesempatan itu. Ia bercerita sambil memerintahkan para pembantunya untuk menghadirkan apel. "Aku mengakui bahawa memang Yusuf seorang pemuda yang mengagumkan. Aku tidak mengingkari bahawa aku benar-benar mencintainya, dan aku telah mencintainya sejak dahulu," kata isteri al- Aziz dengan nada serius. Kemudian wanita-wanita itu mulai mengupas apel. Saat itu peradaban di Mesir telah mencapai puncak yang jauh di mana gaya hidup mewah menghiasi istana-istana.

Pengakuan isteri al-Aziz menciptakan suatu kedamaian umum di ruangan itu. Jika isteri al-Aziz saja mengakui bahawa ia memang jatuh cinta kepada Yusuf, maka pada gilirannya mereka pun berhak untuk mencintainya. Meskipun demikian, mereka mengisyaratkan bahawa seharusnya isteri al-Aziz tidak cenderung pada Yusuf justru sebaliknya, ia harus menjadi tempat cinta. Seharusnya, ia yang dikejar oleh lelaki, bukan sebaliknya. Isteri al-Aziz mengangkat tangannya dan mengisyaratkan agar Yusuf masuk dalam ruangan itu. Kemudian Yusuf masuk di ruang makan itu. Ia dipanggil oleh majikannya kemudian ia pun datang. Kaum wanita masih mengupas buah, dan belum lama Yusuf memasuki ruangan itu sehingga terjadilah apa yang dibayangkan oleh isteri al-Aziz.

Tamu-tamu wanita itu tiba-tiba membisu. Sungguh mereka tercengang ketika menyaksikan wajah yang bercahaya yang menampakkan ketampanan yang luar biasa, ketampanan malaikat. Wanita-wanita itu pun terdiam dan mereka bertakbir, dan pada saat yang sama mereka terus memotong buah yang ada di tangan mereka dengan pisau. Semua pandangan tertuju hanya kepada Yusuf dan tak seorang pun di antara wanita itu melihat buah yang ada di tangannya. Akhirnya, wanita-wanita itu justru memotong tangannya sendiri namun mereka tidak lagi merasakannya. Sungguh kehadiran Yusuf di tempat itu sangat mengagumkan mereka sampai pada batas mereka tidak merasakan rasa sakit dan keluarnya darah dari tangan mereka.

Salah seorang wanita berkata dengan suara yang pelan: "Subhanallah (Maha Suci Allah)." Wanita yang lain berkata dengan suara lembut yang menampakkan kehairanan: "Ini bukan manusia biasa." Sedangkan wanita yang ketiga berkata: "Ini tiada lain adalah seorang malaikat yang mulia." Tiba-tiba isteri al-Aziz berdiri dan berkata: "Inilah dia orang yang kalian cela aku kerana daya tariknya. Memang tidak aku pungkiri bahawa aku pernah merayunya dan menggodanya untuk diriku. Di hadapan kalian ada handuk-handuk putih untuk membalut luka. Sungguh kalian telah dikuasai oleh Yusuf, maka lihatlah apa yang terjadi pada tangan-tangan kalian." Akhirnya, pandangan mereka sekarang berpindah dari Yusuf ke jari-jari mereka yang terpotong oleh pisau yang tajam di mana mereka tidak lagi merasakannya.

Kami kira Yusuf melihat atau memandang ke arah bawah (tanah), atau mengarahkan pandangannya ke depannya tanpa ada maksud tertentu, tetapi ketika disebut ada darah yang keluar di sekitar tempat jamuan itu, maka ia pun melihat ke arah tempat jamuan itu. Yusuf dikejutkan dengan adanya darah yang mengalir di sekitar buah apel yang keluar dari jari-jari wanita itu. Yusuf segera mendatangkan perban dan air seperti biasa yang dilakukan pemuda yang bekerja di istana. Kami kira bahawa isteri al-Aziz berkata saat Yusuf memerban luka yang dideritai oleh para wanita: "Sungguh aku telah menggodanya namun ia mampu menahan dirinya. Jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, nescaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang- orang yang hina."

Kami kira Yusuf tidak menghiraukan ucapannya dan tidak mengomentarinya. Beliau adalah seorang Nabi, tetapi tragedi wanita tersebut adalah bahawa ia mencintai seorang nabi. Kami kira juga bahawa wanita-wanita itu menggodanya pada saat mereka hadir di tempat jamuan. Salah seorang yang sangat cantik berkata kepada Yusuf saat beliau membalut lukanya: "Sungguh sekadar engkau memandang tanganku hai Yusuf, itu sudah cukup bagiku untuk mengubati jariku yang terpotong." Atau ada wanita lagi yang mengatakan padanya: "Yusuf, tidakkah engkau menginginkan seorang perempuan yang akan membersihkan sepatumu dan akan mencuci pakaianmu dan yang akan mengabdi kepadamu."

Barangkali wanita-wanita yang hadir di pesta jamuan itu memiliki berbagai macam cara untuk menggoda. Mungkin sebahagian mereka menggunakan senjata mata atau senjata bulu mata atau senjata fizik untuk mendapatkan Yusuf. Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di tempat jamuan itu. Biarkanlah daya khayal kita menggembara dan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Tampak bahawa berbagai godaan ditujukan pada Yusuf dari wanita-wanita yang hadir dan diundang di acara itu. Yusuf berdiri di tengah-tengah ujian yang berat ini dengan penuh kehairanan:

"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.'" (QS. Yusuf: 33)

Semua wanita-wanita yang ikut serta dalam undangan tersebut mencuba untuk menundukkan Yusuf dengan menggunakan lirikan, gerakan-gerakan tertentu, atau isyarat atau dengan bahasa yang jelas. Yusuf memohon pertolongan Allah s.w.t agar ia diselamatkan dari tipu daya mereka. Ia berdoa kepada Allah s.w.t sebagai seorang manusia yang mengenal kemanusiaannya dan tidak terpedaya dengan kemaksumannya dan kenabiannya. Ia berdoa kepada Allah s.w.t agar memalingkan tipu daya mereka darinya sehingga ia tidak cenderung kepada mereka dan kemudian menjadi orang yang bodoh. Allah s.w.t mengabulkan doanya. Kemudian tangan-tangan yang terputus mulai merasakan kesakitan, dan Yusuf meninggalkan ruang makan itu. Setiap wanita sibuk memerban lukanya dan masing-masing mereka berfikir tentang alasan apa yang akan mereka sampaikan ketika suami mereka bertanya tentang tangan mereka yang terpotong itu? Dan, di mana peristiwa itu terjadi?

Allah s.w.t menceritakan jamuan yang besar itu dalam firman-Nya:

"Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundanglah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan) kemudian dia berkata (kepada Yusuf):

'Keluarlah (nampakanlah dirimu) kepada mereka.' Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum akan keelokan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: 'Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. Wanita itu berkata: 'Itulah dia orang yang kamu cela aku kerana (tertarik) kepadanya dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, nescaya dia akan termasuk golongan orang- orang yang hina. Yusuf berkata: 'Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.' Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 31-34)

Allah s.w.t berhasil memalingkan dan menyelamatkan Yusuf dari tipu daya wanita itu. Akhirnya, wanita-wanita itu merasa putus asa untuk mendapatkan Yusuf dan mendapatkan cinta darinya, sehingga mereka merasa bahawa rasa cinta mereka kepada Yusuf adalah sesuatu keinginan yang mustahil untuk diwujudkan. Keinginan-keinginan yang mustahil ini justru membangkitkan ingatan mereka kepada Yusuf lebih daripada sebelumnya.

Wanita-wanita mulai membicarakan Yusuf: tentang pengaruhnya, kewibawaannya, dan kemuliaannya. Mereka mulai menceritakan bagaimana mereka memotong tangan mereka dengan pisau ketika melihat Yusuf. Akhirnya, berita itu tersebar dari kelompok elit ke masyarakat bawah. Manusia mulai membicarakan tentang sosok pemuda yang menolak keinginan isteri seorang ketua menteri, dan isteri-isteri dari para menteri memotong tangan mereka kerana merasa kagum dengannya. Seandainya kasus ini diketahui secara terbatas di kalangan istana dan kamar-kamarnya yang tertutup nescaya tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Tetapi masalah ini kemudian menyebar kemana-mana sampai kelapisan masyarakat yang paling bawah.

Di sinilah kewibawaan pemerintah dipertaruhkan dan menjadi pertimbangan. Lalu, rejim yang berkuasa menangkap Yusuf. Yusuf dimasukkan dalam penjara untuk membungkam banyaknya gosip-gosip yang disampaikan berkenaan dengan sikapnya serta sebagai cara untuk menutup cerita itu. Yusuf telah berkata ketika wanita-wanita memanggilnya untuk melakukan kesalahan bahawa penjara baginya lebih ringan dan lebih disukainya daripada memenuhi ajakan mereka. Demikianlah Yusuf kemudian masuk ke dalam penjara. Meskipun sebenarnya Yusuf bebas dari segala tuduhan, ia tetap dimasukkan dalam penjara.

Kami tidak yakin bahawa isteri al-Aziz adalah penyebab masuknya Yusuf ke dalam penjara. Kami mengetahui bahawa penolakan tegasnya kepadanya membangkitkan kesombongannya dan cukup menjatuhkan kemuliaannya tetapi kami percaya bahawa wanita itu memang benar- benar mencintainya. Barangkali masuknya Yusuf dalam penjara membuat suatu kondisi lain yang mengubah hubungannya dengan Yusuf di mana ketika Yusuf jauh darinya, maka rasa rindunya dan rasa cintanya kepada Yusuf justru meningkat. Ia berandai-andai seandainya Yusuf keluar dari penjara meskipun hal itu tidak dapat diwujudkannya.

Dan barangkali bukti tuntutan kami yang mengisyaratkan perubahan cintanya padanya dan ketulusannya dengan cinta itu adalah bahawa ia mengakui benar-benar berusaha untuk berbuat buruk padanya tapi Yusuf menolak. Ia melepaskan pengakuannya dengan ucapannya: "Agar dia (al- Aziz) mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya."

Seakan-akan keinginannya agar Yusuf tidak melupakannya lebih penting daripada kedamaiannya bersama suaminya atau kedudukannya sebagai wanita kedua di Mesir. Dan barangkali cintanya kepada Yusuf—saat ia tidak ada—berbeza dalam kualitinya dan kedalamannya daripada cintanya ketika Yusuf masih muda belia yang mengabdi padanya di istana. Ketika mereka berdua dipisahkan dengan jarak yang cukup jauh, dan wanita itu tercegah dari melihatnya, maka timbullah rasa cinta yang menjadikannya tidak akan mengkhianatinya meskipun Yusuf telah pergi jauh darinya. Betapa berat penderitaan cinta manusiawi yang dialami isteri al-Aziz. Masalahnya adalah, bahawa ia memilih seseorang yang hatinya telah tenggelam dalam lautan cinta Ilahi. Akhirnya, Yusuf masuk ke dalam penjara. Allah s.w.t berfirman:

"Kemudian timbul fikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahawa mereka harus memenjarakannya sampai sewaktu-waktu." (QS. Yusuf: 35)

Mereka telah menetapkan suatu keputusan meskipun Yusuf sebenarnya terlepas dari berbagai tuduhan, dan beliau menunjukkan bukti kebenarannya. Meskipun demikian, mereka tetap memasukkan Yusuf dalam penjara sampai waktu yang tidak ditetapkan. Pembicaraan seputar kisah Yusuf pun menjadi padam dan api yang menyala di tengah-tengah manusia menjadi suram. Ketika para menteri dan para pembesar tidak mampu menahan kendali wanita-wanita mereka, namun mereka dengan mudah mampu untuk memenjarakan seseorang yang tidak bersalah. Itu adalah pekerjaan mereka yang mereka lakukan dengan gampang.

Demikianlah ayat Al-Qur'an menggambarkan secara singkat suatu suasana istana secara keseluruhan. Yaitu suasana yang penuh dengan kekotoran dan kerosakan internal. Suasana orang-orang yang bergaya aristokrasi, dan suasana hukum yang mutlak. Penjara menjadi jalan keluar yang dipilih oleh hukum yang mutlak. Seandainya kita memperhatikan keadaan masyarakat Mesir saat itu dan apa yang mereka sembah, maka kita akan memahami mengapa kekuasaan mutlak diperlakukan saat itu. Orang- orang Mesir menyembah tuhan-tuhan yang beraneka ragam. Mereka menyembah selain Allah s.w.t.

Kita telah mengetahui sebelumnya bagaimana kebebasan manusia terpasung ketika mereka lebih memilih sembahan-sembahan selain Allah s.w.t. Dalam kisah Nabi Yusuf kita melihat fenomena seperti itu. Meskipun beliau sebagai seorang Nabi, beliau ditetapkan untuk ditahan dan dimasukkan penjara, tanpa melalui penelitian dan tanpa melalui pengadilan. Kita di hadapan suatu masyarakat yang menyembah berbagai macam tuhan dan kemudian mereka dikuasai dan dipimpin oleh multi tuhan. Oleh kerana itu, tidak sulit bagi mereka untuk menahan orang yang tidak berdosa, bahkan barangkali sulit bagi mereka melakukan sesuatu selain itu.

Yusuf masuk dalam penjara dalam keadaan memiliki hati yang kukuh. Dalam keadaan tenang beliau berada dalam penjara. Beliau tidak menampakkan kesedihan, namun sebaliknya. Beliau berhasil melalui ujian dari isteri al-Aziz, dari pertanyaan-pertanyaan para menteri, dari keusilan para dukun, dan dari pembicaraan para pembantu. Bagi Yusuf, penjara adalah suatu tempat yang damai di mana di dalamnya ia mampu menenangkan dirinya dan berfikir tentang Tuhannya. Nabi Yusuf memanfaatkan kesempatannya di penjara untuk berdakwah di jalan Allah s.w.t. Di dalam penjara, beliau mendapati orang-orang yang tidak berdosa yang juga dimasukkan di dalamnya. Ketika manusia mendapatkan perlakuan lalim dari sebahagian manusia yang lain, maka hati mereka akan lebih mudah untuk mendengarkan kebenaran dan menerima hidayah. Memang hati orang-orang yang menderita dan teraniaya lebih terbuka untuk memenuhi panggilan Allah s.w.t.

Yusuf bercerita kepada manusia tentang rahmat Sang Pencipta, kebesaran-Nya, dan kasih sayang-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Yusuf bertanya kepada mereka: "Mana yang lebih baik, apakah akal harus dikalahkan dan manusia menyembah tuhan yang bermacam-macam atau, akal dimenangkan dan manusia menyembah Tuhan Pengatur alam Yang Maha Besar." Yusuf menyampaikan argumentasi-argumentasi yang kuat melalui pertanyaan-pertanyaannya yang disampaikan dengan ketenangan dan kedamaian. Beliau berdialog dengan mereka secara sehat dan dengan fikiran yang jernih serta dengan niat yang tulus.

Kemudian masuklah bersama beliau dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah seorang di antara mereka adalah pimpinan petugas pembuat rod yang biasa bekerja di tempat raja, sedangkan yang lain pimpinan petugas pemberi minuman keras (khamer) yang biasa diminum oleh raja. Tukang roti itu menyaksikan dalam mimpinya bahawa ia berdiri di satu tempat dengan membawa roti di atas kepalanya yang kemudian dimakan oleh burung yang terbang, sementara orang yang memberikan minum para raja juga bermimpi, dan melihat dalam mimpinya bahawa ia memberikan minum khamer kepada raja.

Kedua orang itu pergi kepada Yusuf dan masing-masing mereka menceritakan mimpinya kepadanya serta meminta kepada beliau untuk menakwilkan atau mentafsirkan apa yang mereka lihat. Yusuf menggunakan kesempatan itu baik-baik dan kemudian ia berdoa kepada Allah s.w.t. Kemudian beliau memberitahu tukang roti itu, bahawa ia akan disalib dan akan mati, adapun pemberi minum raja, maka dia akan keluar dari penjara dan akan kembali bekerja di tempat raja. Yusuf berkata kepada pemberi minum itu: "Jika engkau pergi ke raja, maka jangan lupa menceritakan keadaanku padanya. Katakan kepadanya bahawa di sana terdapat seorang yang ditahan dalam keadaan teraniaya yang bernama Yusuf.

Akhirnya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf benar-benar terjadi. Tukang roti itu pun terbunuh sedangkan orang yang biasa memberi minum raja itu dimaafkan dan kembali ke istana tetapi ia lupa untuk menceritakan pesan Yusuf kepada raja. Setan telah melupakannya sehingga ia lupa untuk menyebut nama Yusuf di depan raja. Yusuf pun tinggal di dalam penjara selama beberapa tahun. Allah s.w.t berfirman:

"Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: 'Sesungguhnya aku bermimpi bahawa aku akan memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: 'Sesungguhnya aku bermimpi bahawa, aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.' Berikanlah kepada kami ta'birnya: Sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakwilkan mimpi). Yusuf berkata: 'Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebahagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Tidaklah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah Yang demikian itu adalah dari kurnia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek-nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Yusuf: 36-40)

Setelah dakwah yang sangat dalam ini dan setelah Yusuf mengemukakan argumentasinya kepada orang-orang yang bertanya, beliau mulai mentafsirkan mimpi yang mereka lihat:

"Hai kedua penghuni penjara, adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamer; adapun yang seorang lagi, maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebahagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku). Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: 'Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.' Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Kerana itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. " (QS. Yusuf: 41- 42)

Cuba Anda perhatikan bagaimana Al-Qur'an menceritakan hal ini. Yusuf tidak menentukan kapan hal tersebut akan terjadi pada kedua orang itu, baik mereka yang bernasib baik atau pun mereka yang bernasib buruk. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang dan kelembutan beliau kepada mereka. Namun mereka memahami tujuan beliau ketika memutuskan suatu perkara kepada mereka dan mengatakan kepada yang lain bahawa ia akan bebas.

Al-Qur'an al-Karim tidak menceritakan bahawa takwil itu telah terwujud dan bahawa perkara itu telah terlaksana sebagaimana telah ditakwilkan oleh Yusuf. Di sini terdapat celah yang dapat digunakan oleh daya khayal bahawa semua ini telah terjadi. Kemudian orang yang selamat itu keluar dari penjara dan menuju ke istana. Ia pun kembali menuangkan minuman kepada raja. Seharusnya ia menceritakan pesan Yusuf yang telah memberitahukan kepadanya bahawa ia akan selamat namun pesan Nabi Yusuf tersebut benar-benar dilupakannya atau benar-benar hilang dari ingatannya. Ia lupa bagaimana Nabi Yusuf menakwilkan mimpinya dan bagaimana Nabi Yusuf berdakwah di jalan Allah s.w.t. Kemewahan istana raja dan kesibukannya dalam melayani raja atau tuannya membuatnya lupa untuk menyampaikan pesan Nabi Yusuf. Setan pun turut serta dalam melupakannya. Akhirnya, Nabi Yusuf tetap tinggal di penjara untuk beberapa tahun. Nabi Yusuf menghadapi ujian itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan serta tidak berputus asa dan redha akan keputusan Allah s.w.t.

Marilah kita berpindah dari penjara ke kamar raja. Si raja tertidur dan bermimpi. Ia melihat dirinya berdiri di tepi Sungai Nil. Air sungai Nil turun di depan matanya. Air Sungai Nil tenggelam dan habis sehingga sungai itu menjadi tumpukan tanah yang kosong dari air. Kemudian ikan- ikan melompat-lompat sehingga tersembunyi dalam tanah sungai. Lalu keluarlah dari sungai itu tujuh sapi yang gemuk dan keluar juga tujuh sapi yang kurus. Sapi-sapi yang kurus itu malah menyerang sapi-sapi yang gemuk. Sapi-sapi yang kurus itu anehnya berubah menjadi binatang- binatang buas yang melahap sapi-sapi yang gemuk. Dalam mimpinya itu, raja berdiri dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan dan menakutkan itu. la menyaksikan teriakan-teriakan sapi-sapi yang gemuk itu saat dimakan oleh sapi-sapi yang kurus.

Kemudian timbullah di atas tepi Sungai Nil tujuh tangkai hijau dan tujuh tangkai hijau itu tenggelam dalam tanah. Dan muncullah di tanah yang sama tujuh tangkai yang kering. Tiba-tiba raja bangun dari tidurnya dalam keadaan takut. Raja menceritakan mimpinya kepada para peramal, para dukun, dan para menterinya. Ia meminta kepada mereka untuk menafsirkannya. Seorang peramal berkata: "Ini adalah hal yang cukup aneh, bagaimana sapi-sapi kurus dapat memakan sapi-sapi yang gemuk? Saya kira ini adalah kembang mimpi yang tidak ada ertinya." Kemudian para ahli mimpi dan para penakwil mimpi dan mereka yang ada di sekitar raja bersepakat bahawa mimpi si raja tidak memiliki makna yang khusus, atau ia hanya sekadar kembang tidur yang tidak ada ertinya.

Berita tentang mimpi raja itu sampai di telinga orang yang memberi minum raja. Fikirannya bergoncang ketika mendengar mimpi raja itu. Ia mulai mengingat-ingat mimpi yang dilihatnya di penjara. Ia mengingat, bagaimana Yusuf menakwilkan mimpinya. Ia segera menuju ke tempat raja dan menceritakan kepadanya peristiwa yang dialaminya bersama Yusuf. Ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya hanya Yusuf satu-satunya yang mampu mentafsirkan mimpimu. Sebenarnya ia telah berpesan kepadaku agar aku menyebut keadaannya di depanmu tetapi terus terang, aku lupa menyampaikan pesannya." Kemudian raja mengutus orang itu ke penjara untuk menemui Yusuf dan bertanya kepadanya perihal mimpinya. Allah s.w.t berfirman:

"Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang termuka, terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpiku. Mereka menjawab: 'Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu takwil mimpi itu.' Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: 'Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).' (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): 'Yusuf, hai orang yang amat dipercayai, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya.'" (QS. Yusuf: 43-46)

Kamar raja menjadi gelap, sementara itu layar penjara menjadi terang. Yusuf tampak berada dalam penjaranya. Seorang pemberi minum raja datang padanya. Raja membutuhkan pendapatnya dan Allah s.w.t akan memenangkan urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak menyedari. Utusan raja itu menanyakan tentang tafsir mimpi si raja. Yusuf tidak mensyaratkan kepadanya bahawa ia harus dikeluarkan dari penjara sebagai imbalan dari usahanya dalam mentafsirkan mimpinya. Yusuf tidak tidak mengatakan apa-apa selain ia berusaha untuk mentafsirkan mimpi raja. Demikianlah sikap seorang nabi ketika manusia datang padanya untuk meminta pertolongan meskipun mereka berbuat lalim kepadanya. Yusuf berkata kepada pemberi minum raja itu:

"Yusuf berkata: 'Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa;, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun yang sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang akan kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur." (QS. Yusuf: 47-49)

Yusuf menjelaskan kepada utusan raja bahawa negeri Mesir akan mengalami masa-masa yang subur selama tujuh tahun di mana saat itu tanaman-tanaman akan tumbuh segar, dan hendaklah orang-orang Mesir tidak melampaui batas dalam memanfaatkan musim subur ini kerana setelah itu akan disusul dengan tujuh tahun paceklik. Pada musim itu, apa saja yang disimpan oleh penduduk Mesir akan habis. Oleh kerana itu, cara yang terbaik untuk menyimpan hasil tanaman mereka adalah, hendaklah mereka membiarkannya di tangkai-tangkainya agar ia tidak rosak atau terkena hama atau dapat berubah kerana cuaca.

Demikian takwil mimpi raja tersebut terkuak. Yusuf justru menambahkan pembicaraan tentang keadaan suatu tahun yang belum pernah dimimpikan oleh raja. Yaitu tahun yang penuh dengan kebahagiaan. Tahun di mana manusia mendapatkan kurnia dengan banyaknya tanaman- tanaman yang tumbuh dan melimpahnya air serta tumbuhnya anggur- anggur yang mereka tanam sehingga mereka memeras darinya khamer. Juga tumbuh pohon zaitun yang mereka tanam yang mereka memeras darinya minyak zaitun. Tahun ini tidak terdapat dalam mimpi raja. Ini adalah ilmu khusus yang diperoleh Nabi Yusuf. Yusuf menyampaikannya kepada pemberi minum raja itu dan memesan kepadanya agar bahagian ini pun juga dikemukakan kepada raja dan masyarakat. Akhirnya, pemberi minum itu kembali ke raja dan menceritakan semua yang didengarnya dari Yusuf. Raja menjadi terhairan-hairan dengan apa yang didengarnya. Ia kemudian berkata: "Siapa gerangan orang yang dipenjara ini. Sungguh luar biasa. Ia menceritakan hal-hal yang akan terjadi, bahkan lebih dari itu ia memberikan cara-cara untuk mengatasi persoalan yang akan terjadi itu tanpa meminta upah atau balasan atau agar ia dibebaskan dari penjara."

Kemudian raja mengeluarkan perintah agar Yusuf dibebaskan dari penjara dan dihadirkan padanya. Lalu utusan raja pergi ke penjara. Utusan ini bukan utusan yang pertama, yaitu si pemberi minum raja. Ia adalah seseorang yang memiliki jabatan penting. Kemungkinan besar ia adalah salah seorang menteri. Ia pergi untuk menemui Yusuf di penjara. Ia meminta kepada Yusuf agar keluar dari penjara guna menemui raja. Raja menginginkan agar ia segera menjumpainya.

Ternyata Yusuf menolak untuk keluar dari penjara kecuali semua tuduhan yang ditujukan kepadanya dicabut. Tampak bahawa mereka menuduhnya terlibat dalam kasus pemotongan tangan para wanita. Mungkin mereka berkata: "Yusuf ingin berbuat aniaya terhadap wanita-wanita itu, lalu kaum wanita ingin mempertahankan diri mereka dengan cara memotong tangan mereka dengan pisau." Alhasil, boleh jadi mereka menggunakan berbagai macam kebohongan yang sulit diterima, tetapi sebagaimana kita ketahui segala hal sah-sah saja dan boleh saja jika dilakukan oleh orang-orang yang hidup di istana kerana hukum yang dipakai di sana adalah hukum yang mutlak. Yusuf tidak mahu keluar dari penjara itu kecuali bila ditetapkan bahawa beliau terlepas dari segala tuduhan:

"Raja berkata: 'Bawalah dia kepadaku.' Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: 'Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka.'" (QS. Yusuf: 50)

Utusan itu kembali kepada raja. Raja berteriak ketika melihatnya sendirian: "Di mana Yusuf?" Utusan raja berkata: "Ia masih di penjara." Raja bangkit dari tempat duduknya lalu berkata: "Bukankah aku memerintahkanmu untuk menghadirkannya?" Utusan raja berkata: "Ia menolak untuk keluar dari penjara kecuali semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya dicabut. Paduka yang mulia bertanggungjawab dalam menyelesaikan kasusnya bersama wanita-wanita di istana yang telah memotong tangan mereka." Raja berkata: "Kalau begitu, panggillah semua isteri-isteri menteri dan hadirkanlah isteri al-Aziz. Saya minta semua hadir."

Raja merasa bahawa Yusuf menghadapi suatu persoalan di mana ia tidak mengetahui secara pasti titik terangnya. Barangkali raja mendengar berbagai macam gosip dan desas-desus yang biasa terjadi di kalangan para menterinya dan kisah yang melibatkan isteri ketua menterinya dan Yusuf, tetapi raja itu tidak begitu peduli dengan apa yang didengarnya. Sebab cerita-cerita semacam ini sudah menjadi hal yang biasa dan sering terjadi di dunia istana yang glamor. Akhirnya, isteri al-Aziz dan semua wanita yang pernah dijamunya hadir di depan raja. Raja bertanya: "Bagaimana cerita Yusuf yang sebenarnya? Apa yang kalian ketahui tentangnya? Apa benar ia terlibat dalam skandal seks?

Salah seorang perempuan memotong pembicaraan raja dan berkata: "Demi Allah, kami tidak mengetahui bahawa ia melakukan suatu keburukan." Wanita yang lain berkata: "Yusuf adalah seorang yang suci bagaikan seorang malaikat." Kemudian pandangan tertuju kepada isteri al-Aziz yang tampak pucat. Ia menampakkan kerinduan untuk melihat wajah Yusuf. Ia mengaku bahawa ia telah berbohong dan Yusuf adalah orang-orang yang benar. Ia benar-benar telah menggoda Yusuf namun Yusuf menolak. Ia menegaskan bahawa ia benar-benar mengatakan yang sesungguhnya, bukan kerana takut kepada raja dan juga wanita-wanita yang lain. Fikirannya masih berputar sekitar Yusuf. Akhirnya, Yusuf dibebaskan dari berbagai tuduhan. Allah s.w.t menceritakan proses pengadilan ini dan penyusutan ini dalam firman-Nya:

"Raja berkata: (kepada wanita-wanita itu): 'Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepada- mu) ? Mereka berkata: Maha sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukkan darinya. Berkata isteri al-Aziz: 'Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.' Yusuf berkata: 'Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahawasanya Allah tidak meredhai tipu daya orang- orang yang berkhianat. " (QS. Yusuf: 51-52)

Al-Qur'an al-Karim menceritakan kepada kita proses pengakuan isteri al- Aziz dengan menggunakan lafal-lafal insipiratif yang mengisyaratkan adanya luapan emosi dan perasaan yang dalam: "Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. " Itu adalah suatu penyaksian yang utuh dari wanita tersebut tentang dosanya serta kesucian dan kejujuran Yusuf. Suatu kesaksian yang tidak didorong oleh rasa takut atau rasa khawatir atau apa pun lainnya.

Konteks Al-Qur'an mengungkapkan faktor yang lebih dalam dari semua ini. Yaitu keinginan wanita itu agar lelaki yang telah mencela kesombongan feminisnya tetap menghormatinya. Ia tidak ingin lelaki itu terus merendahkannya sebagai wanita yang salah. Ia ingin meluruskan fikiran lelaki tentang dirinya. "Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya." Aku tidak seburuk yang dibayangkannya. Barangkali ia mulai menangis ketika berkata:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampunan lagi Maha Penyayang. " (QS. Yusuf: 53)

Melalui perenungan ayat-ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahawa isteri al-Aziz mengikuti agama Nabi Yusuf. Ia mengikuti agama tauhid. Penahanan Yusuf telah membuat perubahan drastik dalam hidupnya. Ia beriman kepada Tuhannya dan memeluk agama Yusuf. Ia mencintai Yusuf meskipun beliau jauh dan tidak bertemu dengannya.

"Dan raja berkata: 'Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang tepat bagiku.' Maka tatkala raja telah bercakap- cakap dengan dia, dia berkata: 'Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.' Berkatalah Yusuf: 'Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.' Dan demikian Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa saja yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia- nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa." (QS. Yusuf: 54-57)

Setelah itu, Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan kisah isteri al-Aziz secara penuh. Al-Qur'an malah berpindah ke kisah yang lain sehingga kita tidak mengetahui urusannya ketika ia mengakui kejahatannya lalu dibarengi dengan pernyataan keimanannya terhadap agama Nabi Yusuf.

Berkenaaan dengan wanita itu, terdapat banyak dongeng palsu dan bohong. Ada yang mengatakan bahawa suaminya mati lalu ia menikah dengan Yusuf. Kemudian diketahui bahawa ia masih perawan. Ia mengaku bahawa suaminya adalah seorang tua yang tidak suka mendekati wanita. Ada yang mengatakan bahawa matanya menjadi buta kerana saking seringnya ia menangis terhadap Yusuf, lalu ia keluar dari istana dan tersesat di jalan-jalan kota. Ketika Yusuf menjadi pembesar di istana, wanita itu berteriak dengan penuh kesakitan dan penyesalan sambil berkata: "Maha Suci Allah yang menjadikan seorang raja budak kerana kemaksiatannya dan menjadikan budak raja kerana ketaatannya." Kemudian Yusuf bertanya: "Suara siapa itu? Dikatakan padanya: "Itu adalah isteri al-Aziz yang keadaannya telah berubah. Sebelumnya ia menjadi mulia dan kini menjadi hina." Kemudian Yusuf memanggilnya dan bertanya kepadanya: "Apakah masih tersisa dalam dirimu rasa cinta pada diriku?" Wanita itu menjawab: "Sungguh, memandang wajahmu lebih aku cintai daripada dunia. Hai Yusuf, berikanlah padaku ujung cemetimu." Lalu Yusuf memberikan kepadanya. Ia meletakkan di dadanya. Yusuf melihat cemeti itu bergetar di tangannya dengan goncangan yang sangat keras kerana detak jantungnya yang kuat. Masih banyak kebohongan-kebohongan lain dan dongeng-dongeng lain yang berkenaan dengannya. Kisah-kisah yang disampaikan itu semua laksana drama romantis yang berakhir pada kehancuran cinta.

Monday, 18 June 2012

10 Sifat Terpuji

Rasulullah saw. Bersabda bermaksud:
"Sebesar-besar kebajikan itu ialah berakhlak dengan akhlak yang baik, dan dosa itu ialah perasaan bimbang dalam jiwa dan engkau tidak suka keadaan itu diketahui oleh orang lain".
Riwayat Muslim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Akhlak berasal dari perkataan al-khuluq. Al-khuluq bererti tabiat atau tingkah laku. Akhlak yang mulia adalah matlamat utama bagi ajaran Islam. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam dalam hadisnya yang bermaksud :"Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".
Abu Darda berkata, bersabda Nabi SAW maksudnya : "Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat daripada husnul Khulq (akhlak yang baik)." (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Aisyah r.ha. berkata, "Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda, 'Sesungguhnya seorang mukmin yang dapat mengejar budi pekerti yang baik, darjat orang itu sama seperti orang yang terus menerus berpuasa dan solat malam'." (Hadis Riwayat Abu Daud)
Akhlak yang mulia adalah merupakan tanda dan hasil dari iman yang sebenar. Tidak ada nilai bagi iman yang tidak disertai oleh akhlak.
Rasulullah SAW bersabda maksudnya :  "Bukanlah iman itu hanya dengan cita-cita tetapi iman itu ialah keyakinan yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan." (Hadis riwayat Ad-Dailami).
Jabir ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud : "Sesungguhnya orang yang sangat saya kasihi dan terdekat denganku pada hari kiamat nanti adalah orang terbaik akhlaknya. Dan orang yang sangat aku benci dan terjauh dariku pada hari kiamat nanti adalah orang yang banyak bicara, sombong dalam pembicaraannya, dan berlagak menunjukan kepandaiannya." (Hadis Riwayat Tirmidzi).
Sahabat yang dimuliakan,
Islam adalah ajaran yang benar untuk memperbaiki manusia dan membentuk akhlaknya demi mencapai kehidupan yang baik. Islam memperbaiki manusia dengan cara terlebih dahulu memperbaiki jiwa, membersihkan hati dan menanamkan sifat-sifat terpuji. Islam benar-benar dapat membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan, kelapangan dan ketenteraman.
Sebaliknya manusia akan menjadi hina apabila ia merosakkan sifat, pembawaan dan keadaan dalam jiwanya.
Terdapat 10 ciri-ciri akhlak yang mulia akan menghiasi diri seseorang insan supaya ia menjadi seorang mukmin yang benar.
Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :
Pertama : Bersifat warak dan meninggalkan perkara yang syubhat
Seorang muslim mestilah menjauhkan dirinya dari segala perkara yang dilarang oleh Allah SWT dan juga perkara-perkara yang samar-samar di antara halal dan haramnya (syubhat) berdasarkan dari hadis Rasulullah SAW bersabda maksudnya
:Daripada Abu Abdullah al-Nu'man ibn Basyer r.a. beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Sallallahu'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang halal itu nyata (terang) dan haram itu nyata (terang) dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang kesamaran, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa memelihara (dirinya dari) segala yang kesamaran, sesungguhnya ia memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa jatuh kedalam perkara kesamaran jatuhlah ia kedalam yang haram, seperti seorang pengembala yang mengembala di sekeliling kawasan larangan, hampir sangat (ternakannya) makan di dalamnya. Ketahuilah! Bahawa bagi tiap-tiap raja ada kawasan larangan. Ketahuilah! Bahawa larangan Allah ialah segala yang diharamkan-Nya. Ketahuilah! Bahawa di dalam badan ada seketul daging, apabila ia baik, baiklah badan seluruhnya dan apabila ia rosak, rosakkalah sekeliannya. Ketahuilah! Itulah yang dikatakan hati. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Adapun setinggi-tinggi pencapaian darjat warak adalah sebagaimana  Rasulullah Sallallahu'Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud : "Seorang hamba (Allah) itu tidaklah termasuk dalam martabat golongan muttaqin sehinggalah ia meninggalkan sesuatu perkara yang tidaklah menjadi kesalahan (jika dilakukan tetapi ia meninggalkannya) kerana sikap berhati-hati dari terjerumus ke dalam kesalahan"
Kedua : Memelihara penglihatan.
Seseorang mukmin itu mestilah memelihara pandangan daripada melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT kerana pandangan terhadap sesuatu (yang menarik itu) boleh merangsang syahwat dan boleh membawa ke kancah pelanggaran dan maksiat. Sehubungan dengan ini Al-Quranul Karim mengingatkat orang –orang mukmin supaya memelihara diri dari penglihatan yang tidak memberi faedah, firman Allah SWT maksudnya :
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". (Surah an-Nur ayat 30)
Nabi SAW bersabda maksudnya : "Hendaklah kamu memelihara pandangan kamu, menjaga kehormatan (kemaluan) kamu atau Allah akan menghodohkan wajah kamu." (Hadis Riwayat At Tabrani)
Ketiga : Memelihara Lidah
Seseorang mukmin itu mestilah memelihra lidahnya dari menuturkan kata-kata yang tidak berfaedah, memfitnah, berdusta, berbohong, memaki-hamun dengan perkataan yang buruk dan kotor, percakapan-percakapan kosong, mengumpat, mengeji dan mengadu domba.
Imam Nawawi rahimahumullah mengatakan. "Ketahuilah, seorang mukallaf itu sewajarnya menjaga lidahnya dari sebarang percakapan kecuali percakapan yang menghasilkan kebaikan. Apabila bercakap dan berdiam diri adalah sama sahaja hasilnya, maka mengikut sunnahnya adalah lebih baik berdiam diri kerana percakapan yang diharuskan mungkin membawa kepada yang haram atau makruh. Kejadian demikian telah banyak berlaku tetapi kebaikan darinya adalah jarang."
Sebenarnya banyak dari hadis-hadis Rasulullah Sallallahu'Alaihi Wasallam yang menerangkan keburukan dan bencana lidah ke atas empunya diri.
Nabi SAW bersabda maksudnya : "Tidaklah dihumbankan muka manusia kedalam neraka itu sebagai hasil tuaian (buruk) lidahnya"
(Hadis Riwayat Tarmizi)
Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya : "Bukanlah ia seorang mukmin (jika) jika ia suka menuduh, melaknat, bercakap kotor dan keji." (Hadis Riwayat Tarmizi)
Sabda baginda lagi maksudnya : "Sesiapa yang banyak bercakap, maka banyaklah kesalahannya, sesiapa yang banyak kesalahannya, maka banyaklah dosanya, dan sesiapa yang banyak dosanya, api nerakalah paling layak untuk dirinya."
(Hasid Riwayat Baihaqi)
Keempat : Bersifat Pemalu.
Seorang mukmin mestilah bersifat pemalu dalam setiap keadaan. Namun demikian sifat tersebut tidak seharusnya menghalangnya memperkatakan kebenaran. Di antara sifat pemalu seseorang ialah ia tidak masuk campur urusan orang lain, memelihara pandangan, merendah diri, tidak meninggikan suara ketika bercakap, berasa cukup serta memadai sekadar yang ada dan sifat-sifat seumpamanya.
Daripada Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda maksudnya : "Iman itu lebih daripada 70 cabang, yang terbaik daripadanya ialah mengucapkan La ilaha illallah (Tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah SWT) dan yang paling rendah ialah membuang sesuatu yang menyakiti ditengah jalan, dan malu itu satu cabang daripada iman". (Hadis Riwayat Muslim, bab menerangkan bilangan cabang iman, bil. 153)
Berhubung dengan sifat malu ini para ulama mengatakan: "Hakikat malu itu ialah sifat yang menggerakkan seseorang itu meninggalkan kejahatan, dan menghalangnya dari mencuaikan hak orang lain.
Kelima : Bersifat Lembut dan Sabar
Di antara sifat-sifat yang paling ketara yang wajib tertanam di dalam diri seseorang mukmin ialah, sifat sabar dan berlemah lembut kerana kerja-kerja untuk Islam akan berhadapan dengan perkara-perkara yang tidak menyenangkan, malah jalan dakwah sememangnya penuh dengan kepayahan, penyeksaan, penindasan, tuduhan, ejekan dan persendaan yang memalukan. Halangan–halangan ini sering dihadapi oleh para petugas 'amal Islami sehingga himmah dan lemah lembut mereka menjadi pudar, gerakan menjadi lumpuh malah mereka mungkin terus berpaling meninggalkan medan dakwah.
Dari keterangan ini jelaslah, tugas dan tanggungjawab seorang pendakwah adalah satu tugas yang amat sukar. Ia bertanggungjawab menyampaikan dakwah kepada seluruh lapisan manusia yang berbeza kebiasaan, taraf pemikiran dan tabiatnya.
Firman Allah SWT maksudnya : "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan".(Surah al-Syura ayat 43)
Firman-Nya lagi yang bermaksud : "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?".
(Surah an-Nur ayat 22)
"Dan apabila orang-oran jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandungi) keselamatan".
(Surah al-Furqan ayat 63)
Sabda-sabda Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam yang bermaksud : "Sesungguhnya seorang hamba itu akan mencapai darjat orang-orang yang berpuasa serta bersembahyang malam dengan sifat lemah-lembutnya."
Sabda Nabi SAW maksudnya : "Mahukah aku memberitahu kamu suatu perkara yang dengannya, Allah akan memuliakan binaan (kedudukan seseorang) dan mengangkatnya kepada beberapa darjat ketinggian. Mereka menjawab: Ya wahai Rasulullah. Baginda bersabda: "Berlemah-lembutlah kamu terhadap orang jahil, maafkanlah orang yang menzalimi kamu, hulurkanlah pemberian kepada orang yang menahan pemberiannya kepadamu dan sambunglah ikatan silaturrahim terhadap orang yang memutuskannya terhadap kamu."
Sabda Nabi SAW maksudnya : "Apabila Allah Subhanahuwata'ala telah menghimpunkan makkhluknya di hari kiamat, penyeru pada hari itu pun menyeru; "Di manakah orang-orang yang mempunyai keistimewaan". Baginda bersabda: Lalu bangun segolongan manusia dan bilangan mereka adalah sedikit. Mereka semua bergerak dengan cepat memasuki syurga lalu disambut oleh para malaikat. Kemudian mereka ditanya: "Apakah keistimewaan kamu". Mereka menjawab: "Adalah kami ini apabila dizalimi kami bersabar, apabila dilakukan kejahatan kepada kami, kami berlemah-lembut", lalu dikatakan kepada mereka: "Masuklah kamu ke dalam syurga kerana ia adalah sebaik-baik ganjaran bagi orang yang beramal"
Keenam : Bersifat Benar dan Jujur.
Seorang mukmin itu mestilah bersifat benar dan tidak berdusta. Berkata benar sekalipun kepada diri sendiri kerana takut kepada Allah SWT dan tidak takut kepada celaan orang. Sifat dusta adalah sifat yang paling jahat dan hina malahan ia menjadi pintu masuk kepada tipu daya syaitan. Seorang yang memelihara dirinya dari kebiasaan berdusta bererti ia memiliki pertahanan dan benteng yang dapat menghalang dari was-was syaitan dan lontaran-lontarannya.
Berhati-hati dan memelihara diri dari sifat dusta akan menjadikan jiwa seorang itu mempunyai pertahanan dan benteng yang kukuh menghadapi hasutan dan tipu daya syaitan. Dengan demikian jiwa seseorang akan sentiasa bersih, mulia dan terhindar dari tipu daya syaitan. Sebaliknya sifat dusta meruntuhkan jiwa dan membawa kehinaan kepada peribadi insan. Lantaran itu Islam mengharamkan sifat dusta dan menganggap sebagai satu penyakit dari penyakit-penyakit yang dilaknat.
Rasulullah Sallallahu' Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud :
"Sesungguhnya sifat benar membawa kepada kebajikan dan sesungguhnya kebajikan itu membawa ke syurga. Seseorang yang sentiasa bersifat benar hinggalah dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang benar. Dan sesungguhnya sifat dusta itu membawa kepada kezaliman (kejahatan) dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seorang lelaki yang sentiasa berdusta sehinggalah dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta".
(Hadis Riwayat Muttafaqun 'alaihi)
Ketujuh : Bersifat rendah diri
Seseorang mukmin mestilah bersifat tawaduk atau merendah diri khususnya terhadap saudara-maranya yang muslim dengan cara tidak membezakan (dalam memberi layanan) sama ada yang miskin maupun yang kaya. Rasulullh Sallallahu'Alaihi Wasallam sendiri memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari sifat-sifat takbur (membangga diri). Baginda bersabda maksudnya :
"Tidak akan memasuki syurga sesiapa yang di dalam hatinya terdapat sebesar zarah (sedikit) sifat takbur."
(Hadis Riwayat Muslim)
Di dalam hadis qudsi Allah berfirman maksudnya : "Kemuliaan itu ialah pakaianKu dan membesarkan diri itu ialah selendangKu. Sesiapa yang cuba merebut salah satu dari keduanya pasti Aku akan menyeksanya".
(Hadis Qudsi Riwayat Muslim)
Kelapan : Menjauhi sangka buruk dan mengumpat.
Menjauhi sangka buruk dan mengintai-intai keburukan orang lain. Oleh itu seorang itu mestilah menjauhi sifat-sifat ini kerana mematuhi firman Allah SWT maksudnya :
"Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi penyayang". (Surah al-Hujurat ayat  12)
Allah SWT berfirman lagi yang maksudnya : "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
(Surah al-Ahzab ayat 58)
Dan Rasulullah SAW bersabda maksudnya :
"Wahai golongan yang beriman dengan lidahnya sahaja, sedang iman belum memasuki hatinya, janganlah kamu mengumpat orang-orang Islam yang lain dan janganlah kamu mengintai-intai keburukan mereka, kerana sesiapa yang mengintai-intai keburukan saudaranya, Allah akan membongkar keburukannya sekalipun ia berada di dalam rumahnya." (Hadis Riwayat Abu Daud)
Kesembilan : Bersifat pemurah.
Seorang mukmin mestilah bersifat pemurah, sanggup berkorban dengan jiwa dan harta bendanya pada jalan Allah. Di antara cara yang dapat menyingkap kebakhilan seseorang itu ialah dengan cara memintanya membelanjakan wang ringgit kerana berapa banyak dari kalangan mereka yang berkedudukan, berharta dan berpangkat gugur dari jalan ini, lantaran rakus terhadap mata benda. Di dalam al-Quran al-Karim sendiri terdapat banyak ayat yang menjelaskan ciri-ciri keimanan yang dikaitkan dengan sifat pemurah.
Firman Allah SWT maksudnya : "Orang-orang yang mendirikan solat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki  yang kami berikan kepada mereka."  (Surah al-Anfal ayat 3)
Firman-Nya lagi yang bermaksud : "Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah) maka pahalanya itu untuk diri kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan kerana mencari keredhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan nescaya kamu akan diberikan pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak dianiayai".(Surah al-Baqarah ayat 272)
Orang-orang yang bakhil atau kikir seharusnya mendengar dan mengambil pelajaran dari pesanan Rasulullah Sallallahu'Alaihi Wasallam maksudnya : "Tidaklah hamba-hamba Allah bangun di pagi hari, kecuali disertai dengan turunnya dua malaikat. Salah satu dari keduanya lalu berkata : 'Ya Allah berilah orang yang berinfaq ganti (dari barang yang diinfaqkan)'. Dan salah satu lagi berkata ; 'Ya Allah berilah orang yang menahan (bakhil) akan kerugian."
(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kesepuluh : Qudwah Hasanah (Suri teladan yang baik)
Selain dari sifat-sifat yang disebutkan di atas, seorang mukmin mestilah menjadikan dirinya contoh ikutan yang baik kepada orang ramai. Segala tingkah lakunya adalah menjadi gambaran kepada prinsip-prinsip Islam serta adab-adabnya seperti dalam hal makan minum, cara berpakaian, cara pertuturan, dalam suasana aman, dalam perjalanan malah dalam seluruh tingkah laku dan diamnya. Membina diri menajdi suri teladan merupakan peranan besar yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.
Firman Allah swt yang bermaksud: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah " ( Surah al-Ahzab Ayat 21 )

Marilah kita beramal dengan 10 ciri-ciri akhlak mulia dan terpuji seperti yang dinyatakan diatas. Akhlak yang mulia dan terpuji adalah asset yang besar di dunia dan akhirat. Jika di dunia kita akan dikasihi oleh  manusia dan akan menjadi ikutan dan jika di akhirat akhlak yang mulia dan terpuji adalah menjadikan amalan yang memberatkan timbangan (mizan) kita di sana. Jadikanlah akhlak yang terpuji ini sebagai pakaian hidup kita dan menjadikan kita hamba Allah SWT yang diredai-Nya di dunia dan akhirat.

KISAH NABI ISHAK DAN NABI YA'KUB a.s.

Nabi Ishaq adalah putera nabi Ibrahim dari isterinya Sarah, sedang Nabi Ismail adalah puteranya dari Hajr, dayang yang diterimanya sebagai hadiah dari Raja Namrud.

Tentang Nabi Ishaq ini tidak dikisahkan dalan Al-Quran kecuali dalam beberapa ayat di antaranya adalah ayat 69 sehingga 74 dari surah Hud, seperti berikut:

69. " Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami {malaikat-malaikat} telah datang kepada Ibrahim membawa khabar gembira mereka mengucapkan "selamat".Ibrahim menjawab: "Selamatlah" maka tidak lama kemudian Ibrahim menjamukan daging anak sapi yang dipanggang.

70. "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. malaikat itu berkata " Janagan kamu takut sesungguhnya kami adalah {malaikat-malaikat} yang diuts untuk kaum Luth."

71. "dan isterinya berdiri di sampingnya lalu di tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan {kelahiran} Ishaq dan sesudah Ishaq {lahir pula} Ya'qub."

72. Isterinya berkata " sungguh menghairankan apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua juga? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang aneh."

73. Para malaikat itu berkata " Apakah kamu merasa hairan tentang ketetapan Allah? { itu adalah} rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu hai ahlulbait! sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. "

74. "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya dia pun bersoal jawab dengan {malaikat- malaikat} Kami tentang kaum Luth." { Hud : 69 ~ 74 }

Selain ayat-ayat yang tersebut di atas yang membawa berita akan lahirnya Nabi Ishaq daripada kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia yang menurut sementara riwayat bahawa usianya pada waktu itu sudah mencapai sembilan puluh tahun, terdapat beberapa ayat yang menetapkan kenabiannya di antaranya ialah ayat 49 surah "Maryam" sebagai berikut:

" Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang meerka sembah selain Allah Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'qup. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi."

Dan ayat 112 dan 113 surah "Ash-Shaffaat" sebagai berikut :

" 112. Dan Kami dia khabar gembira dengan {kelahiran} Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang soleh. 113. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada {pula} yang zalim terhadap dirinya dengan nyata."
Catatan Tambahan

Diriwayatkan bahawa Nabi Ibrahim wafat pada usia 175 tahun. Nabi Ismail pada usia 137 tahun dan Nabi Ishaq pada usia 180 tahun.

Al-Qur'an al-Karim hanya menyebutkan sekilas tentang kisah Nabi Ishak. Kelahiran nabi ini membawa suatu kejadian yang luar biasa di mana para malaikat menyampaikan berita gembira tentang kelahirannya. Kelahirannya terjadi setelah beberapa tahun dari kelahirannya Nabi Ismail, saudaranya. Had Sarah sangat senang dengan kelahiran Ishak dan kelahiran putranya Yakub as. Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan Nabi Ishak dan bagaimana kaumnya bersikap padanya. Yang kita ketahui hanya, bahawa Allah s.w.t memujinya sebagai seorang nabi dari orang-orang yang soleh.

Adapun Yakub, ia adalah Nabi pertama yang berasal dari sulbinya. Beliau adalah Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Namanya adalah Israil ia adalah seorang Nabi yang diutus bagi kaumnya. Allah s.w.t menyebutkan tiga bagian dari kisahnya. Berita gembira tentang kelahirannya disampaikan oleh para malaikat kepada datuknya Ibrahim dan Sarah neneknya. Allah s.w.t juga menyebutkan wasiatnya saat ia meninggal. Dan Allah s.w.t akan menyebutkannya setelah itu - tanpa mengisyaratkan namanya - dalam kisah Nabi Yusuf. Melalui wasiatnya tersebut, kita dapat mengetahui tingkat ketakwaannya. Kita mengetahui bahawa kematian adalah suatu bencana yang akan menghancurkan manusia sehingga karenanya manusia menjadi lupa terhadap namanya dan ia hanya ingat terhadap penderitaan dan kesusahannya, tetapi Nabi Yakub tidak lupa saat ia menjemput kematian untuk berdoa kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t berfirman:

"Adakah hamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek mayangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishah, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya. " (QS. al- Baqarah: 133)

Peristiwa ini yang terjadi antara Nabi Yakub dan anak-anaknya di saat menjelang kematian adalah peristiwa yang sangat besar. Kita di hadapan seseorang yang menghadapi sakaratul maut. Apakah masalah yang menyibukkan fikirannya di saat sakaratul maut? Apakah fikiran-fikiran yang selalu mengganggunya saat sakaratul maut? Apakah perkara penting yang harus disampaikannya sehingga hatinya menjadi tenang sebelum kematiannya? Apakah warisan yang ingin ditinggalkannya kepada anak- anaknya dan cucu-cucunya? Apakah sesuatu yang ingin disampaikannya sebelum kematiannya yang dapat menjamin keselamatan manusia? Anda akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu saat beliau bertanya: "Apa yang kalian sembah sepeninggalku?" Pertanyaan itulah yang sangat merisaukan beliau saat menghadapi sakaratul maut. Yaitu masalah keimanan kepada Allah s.w.t. la adalah masalah satu-satunya dan ia merupakan warisan hakiki. Anak-anak Israil menjawab: "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu Ibrahim, Ismail, dan Ishak. Yaitu Tuhan yang Maha Esa dan kami akan berserah diri pada-Nya."

Telah terdapat dalil yang kuat yang menunjukkan bahawa mereka diutus untuk menyebarkan Islam. Jika mereka (anak-anak Israil) keluar dari Islam, maka mereka bererti keluar dari rahmat Allah s.w.t dan jika mereka tetap mempertahankannya, maka mereka akan mendapatkan rahmat. Yakub meninggal dan ia bertanya kepada anak-anaknya tentang Islam, di mana ia merasa tenang atas akidah mereka. Sebelum kematiannya, ia mendapatkan ujian berat berkenaan dengan anaknya Yusuf. Yusuf adalah seorang Nabi seperti Yakub di mana Allah s.w.t mengutusnya pada penduduk Mesir.

Saturday, 9 June 2012

Hikmah di sebalik Israk dan Mikraj

Marilah kita mendengar firman Allah Taala yang menceritakan tentang peristiwa agung yang berlaku dalam sirah perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. Walaupun para ulama telah bertelingkah di dalam menentukan bulan dan tahun berlakunya Israk tetapi ia adalah peristiwa yang benar-benar berlaku kepada Rasulullah s.a.w. kerana peristiwa ini dinyatakan oleh al-Quranul Karim dan diceritakan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis-hadisnya yang sahih, yang diriwayatkan oleh para ulama secara sahih lagi mutawatir sehingga tidak boleh dipertikaikan lagi.

Matlamat yang penting daripada peristiwa Israk dan Mikraj ini adalah pengajaran yang besar apabila Rasulullah s.a.w. dijemput oleh Allah SWT menjadi tetamu-Nya pada malam yang sangat bersejarah itu.
Firman Allah Taala (maksudnya): "Maha suci Tuhan yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjidilharam (di Makkah) ke Masjidil Aqsa (di Baitulmaqdis) yang Kami telah berkati di sekelilingnya supaya Kami tunjukkan kepadanya ayat-ayat Kami (tanda-tanda kebesaran dan ketuhanan Kami), sesungguhnya Dialah Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Surah Al-Israk: 1)
Peristiwa Israk dan Mikraj untuk menyatakan Rasulullah s.a.w. adalah benar seorang rasul yang dipilih oleh Allah SWT, membawa satu agama dan pengajaran yang bernama Islam, firman Allah (maksudnya): "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam." (A-li Imran: 19).
Dan Allah menyatakan juga (maksudnya): "Dan sesiapa yang mencari (berpegang) dengan agama selain daripada Islam, maka Allah tidak akan menerima dan pada hari akhirat dia tergolong dalam orang-orang yang rugi." (A-li Imran: 85)
Pada malam yang bersejarah itu, Rasulullah s.a.w. dihimpun bersama dengan roh para nabi dan rasul 'alaihimus solatu wassalam di Masjidil Aqsa, mereka solat berjemaah bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w. menjadi imam kepada mereka.
Ini menandakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. adalah satu daripada mata rantai ajaran Islam yang bersambung-sambung dari seorang nabi dan rasul kepada nabi dan rasul yang lain, bermula dari Nabi Adam sehingga Nabi Muhammad s.a.w. yang merupakan nabi akhir zaman, tidak ada lagi nabi selepas Muhammad s.a.w.
Allah SWT memilih nabi-nabi dan rasul-rasul di kalangan manusia. Mereka terdiri daripada manusia yang memiliki akhlak yang luhur lagi tinggi, bersifat benar, amanah, menyampaikan, cerdik dan bijaksana di kalangan kaumnya dan dipelihara daripada melakukan kesalahan dan dosa.
Adapun mereka yang tidak memahami dan buta al-Quran tidak akan percaya kepada peristiwa Israk dan Mikraj, kerana pada malam Israk dan Mikraj, Rasulullah s.a.w. ditemukan dengan nabi-nabi dan rasul-rasul di kalangan Bani Israil dan nabi-nabi dan rasul di kalangan umat-umat yang lain, yang cerita-cerita mereka disebut dalam al-Quran, sebuah kitab Allah yang masih wujud sehingga hari ini. Ini menandakan kebenaran al-Quran.
Kebenaran al-Quran bukan sahaja menandakan betulnya Rasululah s.a.w. bahkan juga menjadi pengajaran kepada umatnya. Semua nabi adalah menganut agama yang satu iaitu agama Islam.
Semua mereka bersolat dalam keadaan menghadap Allah SWT dengan cara-cara solat yang diajar oleh Allah. Semua nabi berpegang dengan akidah tauhid lailahaillallah, tiada tuhan yang sebenar melainkan Allah, tuhan yang layak disembah kepada-Nya, tuhan yang menjadikan dan menguruskan alam ini. Alam ini tunduk di bawah undang-undang peraturan Allah, maka wajib manusia hanya tunduk kepada undang-undang dan peraturan Allah SWT. Itulah ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi dan rasul-rasul yang terpaksa berjuang mengharungi perjuangan yang panjang.
Di dalam peristiwa itu juga ditunjukkan kepada Rasulullah s.a.w. rasul yang disertai oleh pengikut yang ramai. Ada rasul yang disertai oleh pengikut yang sedikit, ada yang berjalan seorang diri, ada nabi yang dibunuh dan ada yang dipenjara.
Itulah nabi-nabi dan rasul-rasul yang membawa ajaran Allah yang berdepan dengan cabaran golongan manusia yang menjadi bala tentera iblis yang akan wujud sehingga hari kiamat.
Peristiwa Israk dan Mikraj untuk meningkatkan semangat Rasulullah s.a.w. supaya jangan takut dan gentar di dalam perjuangan Islam, kerana Islam yang dibawa itu ialah Islam Allah SWT.
Seluruh kuasa besar yang ada dalam dunia adalah habuk-habuk yang kecil yang boleh ditiup angin, bahkan ia lebih kecil lagi apabila berdepan dengan ketuhanan Allah SWT pada hari kiamat.
Seseorang yang menganut Islam hendaklah merasa mulia, tinggi dan hebat dengan Islam, dengan syarat mereka berpegang dengan Islam. Allah SWT memuliakan umat ini dengan Islam. Kehinaan yang menimpa umat ini apabila mereka meninggalkan Islam.
Ditunjukkan pada malam Israk dan Mikraj itu di mana perginya orang yang berpegang dengan Islam sehingga mati dan ke mana arah orang yang menyeleweng dan meninggalkan agama Islam.
Orang yang berpegang dengan Islam diletakkan di syurga dan mereka yang menyeleweng daripada Islam berada di dalam neraka. Hal ini digambarkan dengan jelas supaya diberitahu kepada umatnya sehingga kiamat.
Marilah kita menghayati peristiwa Israk dan Mikraj dengan bukan hanya kita mendengar cerita yang berlaku di dalamnya tetapi yang lebih penting ialah untuk menambah iman kepada Allah, Nabi Muhammad s.a.w. dan ajaran Islam untuk sehidup semati dengan Islam sebagaimana yang diperintah oleh Allah SWT.
Firman Allah (maksudnya): "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan kamu mati melainkan dalam keadaan kamu menjadi orang-orang Islam." (A-li Imran: 102).

Sunday, 3 June 2012

KISAH NABI ISMAIL a.s.

Ismail berusia belia ketika memulai perjalanannya menuju Allah s.w.t. Ibunya membawanya dan menidurkannya di atas tanah, yaitu tempat yang sekarang kita kenal dengan nama telaga zamzam dalam Ka'bah. Saat itu tempat yang dihuninya sangat tandus dan belum terdapat telaga yang memancar dari bawah kakinya. Tidak ada di sana setitis air pun. Nabi Ibrahim meninggalkan isterinya, Hajar, bersama anaknya yang kecil. "Wahai Ibrahim ke mana engkau hendak pergi dan membiarkan kami di lembah yang kering ini?" Kata Hajar. "Wahai Ibrahim di mana engkau akan pergi dan membiarkan kami? Wahai Ibrahim ke mana engkau akan pergi?" Si ibu mengulang-ulang apa yang dikatakannya. Sedangkan Nabi Ibrahim diam dan tidak menjawab. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat meninggalkan mereka berdua di suatu lembah yang tidak ada di alamnya tumbuh-tumbuhan dan minuman. Namun Allah s.w.t telah memerintahkannya untuk tinggal di lembah itu. Dengan lapang dada Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah s.w.t.

Dalam kisah-kisah israiliyat (kisah-kisah palsu yang dibuat oleh Bani Israil) disebutkan bahawa isteri pertamanya, Sarah, tampak cemburu pada Hajar, isteri keduanya, sehingga kerananya Nabi Ibrahim harus menjauhkannya beserta anaknya. Kami percaya bahawa kisah ini palsu dan penuh dengan kebohongan. Jika kita mengamati keperibadian Nabi Ibrahim, maka kita mengetahui bahawa beliau tidak akan mendapat perintah dari seorang pun selain Allah s.w.t.

Kami tidak meyakini bahawa beliau terperangkap dalam perasaan kecemburuan feminisme dan kami juga tidak percaya bahawa beliau sengaja membangkitkan perasaan ini. Kami tidak mengira bahawa peribadi Sarah yang mulia akan terpedaya dengan sikap egoisme. Bukankah ia sendiri yang menikahkan Nabi Ibrahim dengan Hajar, pembantunya agar ia mendapatkan keturunan? Ia menyedari bahawa dirinya wanita tua dan mandul. Ia sendiri yang menikahkannya dan membantu pelaksanaannya. Ia telah memberikan dan mengabdikan dirinya kepada seorang lelaki yang hatinya tiada dipenuhi dengan cinta kepada siapa pun kecuali cinta kepada Penciptanya.

Allah s.w.t berfirman tentang Sarah dan Hajar:

"Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. (QS. Hud: 73)

Jadi, masalahnya adalah bukan masalah kecemburuan antara sesama wanita, namun ia adalah tugas yang diperintahkan oleh Allah s.w.t yang di dalamnya tersembunyi hikmah-Nya. Barangkali Sarah lebih hairan daripada Hajar ketika Nabi Ibrahim memerintahkannya untuk membawa anaknya Ismail dan mengikutinya. "Ke mana engkau hai Ibrahim pergi?" Mungkin pertama-tama Hajar yang bertanya kepadanya dan mungkin juga Sarah yang bertanya. Nabi Ibrahim hanya terdiam dan akhirnya kedua wanita itu pun juga terdiam.

Di sana terdapat hikmah yang tersembunyi di mana Nabi Ibrahim tidak mengetahuinya dan Allah s.w.t tidak menjelaskan kepadanya. la tidak mengetahui hai itu sebagaimana mereka berdua juga tidak mengetahuinya. Jadi kedua-duanya hanya terdiam sebagai bentuk akhlak dari isteri-isteri nabi. Inilah Hajar yang sendirian bersama anaknya di lembah yang terasing dan tandus, di mana ia tidak mengetahui rahsia di balik tempat itu. Inilah Ismail yang memulai perjalanannya menuju Allah s.w.t saat masih menyusui. Ia mengalami ujian saat masih kecil dan juga ujian bagi ayahnya, di mana ia mendapatkan seorang anak saat sudah tua. Nabi Ibrahim menyedari bahawa manusia tidak memiliki sesuatu pun dalam dirinya. Dan seseorang yang cinta kepada Allah s.w.t akan memberikan dirinya kepada Allah s.w.t dan akan memberikan apa yang di sukai oleh dirinya kepada Allah s.w.t tanpa harus diminta. Itu adalah hukum cinta yang dalam. Kami tidak percaya bahawa Nabi Ibrahim mengetahui mengapa ia harus meninggalkan Ismail dan ibunya di tempat itu. Kami tidak mengira bahawa Allah s.w.t telah memberitahunya. Allah s.w.t hanya menurunkan perintah dan Ibrahim hanya menaatinya. Di sinilah tampak kerasnya ujian dan kesulitannya. Di sinilah cinta yang paling dalam diungkapkan, dan di sinilah cinta yang murni dituangkan.

Allah s.w.t menguji kekasih-Nya Ibrahim dengan suatu ujian yang sangat keras, di mana umumnya para orang tua berat sekali melakukannya. Bukan bererti bahawa cinta Allah s.w.t kepada Ibrahim dan cinta Ibrahim kepada-Nya menjadikan Ibrahim tidak memiliki perasaan kemanusiaan. Kekuatan cintanya pada Allah s.w.t justru menjadikan sebagai lautan dari perasaan kemanusiaan, bahkan lautan yang tidak bertepi. Perasaan beliau terhadap Ismail lebih besar, lebih lembut, dan lebih sayang dari perasaan ayah mana pun terhadap anaknya. Meskipun demikian, beliau rela meninggalkannya di tempat yang tandus kerana Allah s.w.t memerintahkan hal tersebut. Terjadilah pergelutan dalam dirinya namun ia mampu melewati ujiannya dan beliau memilih cinta Allah s.w.t daripada cinta anaknya.

Ketika Nabi Ibrahim menampakkan kecintaan yang luar biasa dari yang seharusnya kepada anaknya, maka Allah s.w.t memerintahkannya untuk menyembelihnya. Allah s.w.t agar hanya Dia yang menjadi pusat cinta para nabi-Nya. Barang siapa yang mencintai Allah s.w.t, maka ia pun harus mencintai kebenaran dan orang yang mencintai kebenaran adalah orang memenuhi hatinya dengan cinta kepada Penciptanya semata. Ismail mewarisi kesabaran ayahnya. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah s.w.t sebelumnya:

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang soleh" (QS. ash-Shaffat: 100)

Allah s.w.t menjawab:

"Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." (QS. ash-Shaffat: 101)

Kesabaran yang sama yang terdapat pada ayahnya, kebaikan yang sama, ketakwaan yang sama, dan adab kenabian yang sama pula. Ismail mendapatkan ujian yang pertama saat beliau kecil dan ujian itu berakhir saat Allah s.w.t memancarkan zamzam dari kedua kakinya sehingga darinya ibunya minum dan menyusuinya. Kemudian Ismail mendapatkan ujian yang kedua dalam hidupnya saat ia menginjak masa muda:

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. ash-Shaffat: 102)

Apa yang Anda kira terhadap jawapan si anak? Ia tidak bertanya tentang sifat dari mimpi itu, dan ia tidak berdebat dengan ayahnya tentang kebenaran mimpi itu, tetapi yang dikatakannya: "Wahai ayahku laksanakanlah apa yang diperintahkan. "Janganlah engkau gelisah kerana aku dan janganlah engkau menampakkan kesedihan dan keluh-kesah. "Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Demikianlah jawapan seorang anak yang soleh terhadap ayahnya yang soleh. Itulah puncak dari kesabaran dari seorang anak dan tentu orang tuanya lebih harus bersabar. Itu bagaikan perlumbaan di antara keduanya untuk menguji siapa di antara mereka yang paling sabar. Perlumbaan yang tujuannya adalah meraih cinta Allah s.w.t.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diredhai di sisi Tuhannya." (QS. Maryam: 54-55)

Baitullah

Ismail hidup di semenanjung Arab sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Ismail memelihara kuda dan terhibur dengannya serta memanfaatkannya untuk keperluannya. Sedangkan air zamzam sangat membantu orang- orang yang tinggal di daerah itu. Kemudian sebahagian kafilah menetap di situ dan sebahagian kabilah tinggal di tempat itu. Nabi Ismail tumbuh menjadi dewasa dan menikah. Lalu ayahnya, Nabi Ibrahim, mengunjunginya dan tidak menemukannya dalam rumah namun ia hanya mendapati isterinya. Nabi Ibrahim bertanya kepadanya tentang kehidupan mereka dan keadaan mereka. isterinya mengadukan padanya tentang kesempitan hidup dan kesulitannya. Nabi Ibrahim berkata padanya: "Jika datang suamimu, maka perintahkan padanya untuk mengubah gerbang pintunya."

Ketika Nabi Ismail datang, dan isterinya menceritakan padanya perihal kedatangan seorang lelaki, Ismail berkata: "Itu adalah ayahku dan ia memerintahkan aku untuk meninggalkanmu, maka kembalilah engkau pada keluargamu." Kemudian Nabi Ismail menikahi wanita yang kedua. Nabi Ibrahim mengunjungi isteri keduanya dan bertanya kepadanya tentang keadaannya. Lalu ia menceritakan padanya bahawa mereka dalam keadaan baik-baik dan dikurniai nikmat. Nabi Ibrahim puas terhadap isteri ini dan memang ia sesuai dengan anaknya. Barangkali Nabi Ibrahim menggunakan kemampuan spirituilnya dan cahaya yang mampu menyingkap keghaiban yang dimilikinya. Nabi Ibrahim menyiapkan Ismail untuk mengembang tugas yang besar. Yaitu tugas yang membutuhkan kerja keras kemanusiaan seluruhnya dan waktunya seluruhnya serta kenyamanannya seluruhnya.

Ismail menjadi besar dan mencapai kekuatannya. Nabi Ibrahim mendatanginya. Tibalah saat yang tepat untuk menjelaskan hikmah Allah s.w.t yang telah terjadi dari perkara-perkara yang samar. Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail: "Wahai Ismail, sesungguhnya Allah s.w.t memerintahkan padaku suatu perintah" ketika datang perintah pada Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya, beliau menjelaskan kepadanya persoalan itu dengan gamblang. Dan sekarang ia hendak mengemukakan perintah lain yang sama agar ia mendapatkan keyakinan bahawa Ismail akan membantunya. Kita di hadapan perintah yang lebih penting daripada penyembelihan. Perintah yang tidak berkenaan dengan peribadi nabi tetapi berkenaan dengan makhluk.

Ismail berkata: "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu padamu." Nabi Ibrahim berkata: "Apakah engkau akan membantuku?" Ismail menjawab: "Ya, aku akan membantumu." Nabi Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini." Nabi Ibrahim mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjuk suatu bukit yang tinggi di sana.

Selesailah pekerjaan itu. Perintah itu telah dilaksanakan dengan berdirinya Baitullah yang suci. Itu adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia di bumi. Ia adalah rumah pertama yang di dalamnya manusia menyembah Tuhannya. Dan kerana Nabi Adam adalah manusia yang pertama turun ke bumi, maka keutamaan pembangunannya kembali padanya. Para ulama berkata: "Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia melakukan tawaf di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar Arasy Allah s.w.t.

Nabi Adam membangun suatu khemah yang di dalamnya ia menyembah Allah s.w.t. Adalah hal yang biasa bagi Nabi Adam -  sebagai seorang Nabi - untuk membangun sebuah rumah untuk menyembah Allah s.w.t. Tempat itu dipenuhi dengan rahmat. Kemudian Nabi Adam meninggal dan berlalulah abad demi abad sehingga rumah itu hilang dan tersembunyi tempatnya. Maka Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah s.w.t untuk membangun kedua kalinya agar rumah itu tetap berdiri sampai hari kiamat dengan izin Allah s.w.t. Nabi Ibrahim mulai membangun Ka'bah. Ka'bah adalah sekumpulan batu yang tidak membahayakan dan tidak memberikan manfaat. Ia tidak lebih dari sekadar batu. Meskipun demikian, ia merupakan simbol tauhid Islam dan tempat penyucian kepada Allah s.w.t. Nabi Adam memiliki tauhid yang tinggi dan Islam yang mutlak. Nabi Ibrahim pun termasuk seorang Muslim yang tulus dan ia bukan termasuk seorang musyrik.

Batu-batu rumah itu telah dibangun dari ketenteraman hati Nabi Adam dan kedamaian Nabi Ibrahim serta cintanya dan kesabaran Nabi Ismail serta ketulusannya. Oleh kerana itu, ketika Anda memasuki Masjidil Haram Anda akan merasakan suatu gelombang kedamaian yang sangat dalam. Terkadang pada kali yang pertama engkau melihat dirimu dan tidak melihat rumah dan pemeliharanya. Dan barangkali engkau melihat rumah pada kali yang kedua namun engkau tidak melihat dirimu dan Tuhanmu. Ketika engkau pergi ke haji engkau tidak akan melihat dirimu dan rumah itu yang engkau lihat hanya pemelihara rumah itu. Ini adalah haji yang hakiki. Inilah hikmah yang pertama dari pembangunan Ka'bah.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS. al-Baqarah: 127-129)

Ka'bah terdiri dari batu-batuan yang ada di bumi di mana ia dijadikan pondasi oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Sejarah menceritakan bahawa ia pernah dihancurkan lebih dari sekali sehingga ia pun beberapa kali dibangun kembali. Ia tetap berdiri sejak masa Nabi Ibrahim sampai hari ini. Dan ketika Rasulullah saw diutus  - sebagai bukti pengabulan doa Nabi Ibrahim - beliau mendapat Ka'bah dibangun terakhir kalinya, dan tenaga yang dicurahkan oleh orang-orang yang membangunnya sangat terbatas di mana mereka tidak menggali dasarnya sebagaimana Nabi Ibrahim menggalinya. Dari sini kita memahami bahawa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mencurahkan tenaga keras yang tidak dapat ditandingi oleh ribuan laki-laki. Rasulullah saw telah menegaskan bahawa kalau bukan kerana kedekatan kaum dengan masa jahiliah dan kekhuatiran orang- orang akan menuduhnya dengan berbagai tuduhan jika beliau menghancurkannya dan membangunkannya kembali, nescaya beliau ingin merobohkannya dan mengembalikannya ke pondasi Nabi Ibrahim.

Sungguh kedua nabi yang mulia itu telah mencurahkan tenaga keras dalam membangunnya. Mereka berdua menggali pondasi kerana dalamnya tanah yang di bumi. Mereka memecahkan batu-batuan dari gunung yang cukup jauh dan dekat, lalu setelah itu memindahkannya dan meratakannya serta membangunnya. Tentu hal itu memerlukan tenaga keras dari beberapa lelaki tetapi mereka berdua membangunnya bersama-sama. Kita tidak mengetahui berapa banyak waktu yang digunakan untuk membangun Ka'bah sebagaimana kita tidak mengetahui waktu yang digunakan untuk membuat perahu Nabi Nuh. Yang penting adalah, bahawa perahu Nabi Nuh dan Ka'bah sama-sama sebagai tempat perlindungan manusia dan tempat yang membawa keamanan dan kedamaian. Ka'bah adalah perahu Nabi Nuh yang tetap di atas bumi selama-lamanya. Ia selalu menunggu orang-orang yang menginginkan keselamatan dari kedahsyatan angin taufan yang selalu mengancam setiap saat.

Allah s.w.t tidak menceritakan kepada kita tentang waktu pembangunan Ka'bah. Allah s.w.t hanya menceritakan perkara yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Dia menceritakan tentang kesucian jiwa orang-orang yang membangunnya dan doa mereka saat membangunnya:

"Tuhan kami, terimalah dari hand (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (QS. al- Baqarah: 127)

Itulah puncak keikhlasan orang-orang yang ikhlas, ketaatan orang-orang yang taat, ketakutan orang-orang yang takut, dan kecintaan orang-orang yang mencintai:

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau." (QS. al-Baqarah:
128)

Sesungguhnya kaum Muslim yang paling agung di muka bumi saat itu, mereka berdoa kepada Allah s.w.t agar menjadikan mereka termasuk orang-orang yang berserah diri pada-Nya. Mereka mengetahui bahawa hati manusia terletak sangat dekat dengan ar-Rahman (Allah s.w.t). Mereka tidak akan mampu menghindari tipu daya Allah s.w.t. Oleh kerana itu, mereka menampakkan kemurnian ibadah hanya kepada Allah s.w.t, dan mereka membangun rumah Allah s.w.t serta meminta pada- Nya agar menerima pekerjaan mereka.

Selanjutnya, mereka meminta Islam (penyerahan diri) pada-Nya dan rahmat yang turun pada mereka di mana mereka memohon kepada Allah s.w.t agar memberi mereka keturunan dari umat Islam. Mereka ingin agar jumlah orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang sujud dan rukuk semakin banyak. Sesungguhnya doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyingkap isi had seorang mukmin. Mereka membangun rumah Allah s.w.t dan pada saat yang sama mereka disibukkan dengan urusan akidah (keyakinan). Itu mengisyaratkan bahawa rumah itu sebagai simbol dari akidah.

"Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 128)

Perlihatkanlah kepada kami cara ibadah yang Engkau sukai. Perlihatkanlah kepada kami bagaimana kami menyembah-Mu di bumi. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Setelah itu, kepedulian mereka melampaui masa yang mereka hidup di dalamnya. Mereka berdoa kepada Allah s.w.t:

"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS. al-Baqarah: 129)

Akhirnya, doa tersebut terkabul ketika Allah s.w.t. mengutus Muhammad bin Abdullah saw. Doa tersebut terwujud setelah melalui masa demi masa. Selesailah pembangunan Ka'bah dan Nabi Ibrahim menginginkan batu yang istimewa yang akan menjadi tanda khusus di mana tawaf di sekitar Ka'bah akan dimulai darinya. Ismail telah mencurahkan tenaga di atas kemampuan manusia biasa. Beliau bekerja dengan sangat antusias sebagai wujud ketaatan terhadap perintah ayahnya. Ketika beliau kembali, Nabi Ibrahim telah meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. "Siapakah yang mendatangkannya (batu) padamu wahai ayahku?" Nabi Ibrahim berkata: "Jibril as yang mendatangkannya." Selesailah pembangunan Ka'bah dan orang- orang yang mengesakan Allah s.w.t serta orang-orang Muslim mulai bertawaf di sekitarnya. Nabi Ibrahim berdiri dalam keadaan berdoa kepada Tuhannya sama dengan doa yang dibacanya sebelumnya, yaitu agar Allah s.w.t menjadikan had manusia cenderung pada tempat itu:

"Maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka. "(QS. Ibrahim: 37)

kerana pengaruh doa tersebut, kaum Muslim merasakan kecintaan yang dalam untuk mengunjungi Baitul Haram. Setiap orang yang mengunjungi Masjidil Haram dan kembali ke negerinya ia akan merasakan kerinduan pada tempat itu. Semakin jauh ia, semakin meningkat kerinduannya padanya. Kemudian, datanglah musim haji pada setiap tahun, maka hati yang penuh dengan cinta pada Baitullah akan segera melihatnya dan rasa hausnya terhadap telaga zamzam akan segera terpuaskan. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah cinta yang dalam terhadap Tuhan, Baitullah dan telaga zamzam yaitu, Tuhan alam semesta. Allah s.w.t berfirman berkenaan dengan orang-orang yang mendebat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail:

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. " (QS. Ali 'Imran: 67)

Allah s.w.t mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan beliau yang pertama kali menamakan kita sebagai orang-orang Muslim. Allah s.w.t berfirman:

"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dan dahulu. " (QS. al- Hajj: 78)

Friday, 1 June 2012

Kelebihan Berselawat

1. Mendapat syafaat Rasulullah s.aw.
Sabda Rasulullah s.a.w. :
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku pada waktu pagi sepuluh kali dan pada waktu petang sepuluh kali, dia akan memperolehi syafaatku pada hari kiamat.” (Hadis Riwayat Thabarani)
 2.   Mendapat perlindungan dan pembelaan dari Rasulullah s.a.w.
Sabda Rasulullah s.a.w. :
“Barangsiapa berselawat kepadaku di sisi kuburku maka aku mendengarnya, barangsiapa berselawat kepadaku dari jauh maka selawat itu diserahkan oleh seorang malaikat yang menyampaikan kepadaku dan dia dicukupi urusan keduniaan dan keakhiratan dan aku sebagai saksi dan pembela baginya.” (Hadis Riwayat al-Baihaqi dan al-Khatib)
3.   Mendapat keampunan dosa dari Allah s.w.t.
Sabda Rasulullah s.a.w. :
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh kali selawat dan Allah menghapus sepuluh kesalahan (dosa) dan mengangkat sepuluh darjat kepadanya.” (Hadis Riwayat Ahmad, Nasa’i dan al-Hakim)
 4.   Mendapat rahmat dari Allah s.w.t. :
Sabda Rasulullah s.a.w. :
“Barangsiapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah menurunkan rahmat kepadanya sepuluh kali.” (Hadis Riwayat Muslim)
 5.   Mendapat hajat dunia dan akhirat
Sabda Rasulullah s.a.w. :
“Barangsiapa berselawat kepadaku dalam sehari seratus kali, maka Allah mendatangkan baginya seratus hajat, tujuh puluh untuk akhirat dan tiga puluh untuk di dunianya.” (Hadis Riwayat Ibnu Majar dari Jabir r.a.)
6.   Digembirakan dengan syurga
Sabda Rasulullah s.a.w. :
“Barangsiapa berselawat kepadaku dalam sehari seribu kali, maka dia tidak akan mati sehingg dia digembirakan dengan syurga.” (Hadis Riwayat Abus Syaikh dari Anas r.a.)

Mari kita amalkan Selawat

HUKUM MEMBACA SELAWAT
1. Imam Syafie : selawat itu wajib dibacakan dalam tasyahud akhir, iaitu di antara tasyahud (tahiyyat) dan salam.
2. Imam Asy-Sya’bi : selawat wajib dibaca dalam solat dalam kedua-dua tasyahud awal dan akhir.
3. Abu Jaafar al-Baqir : selawat wajib dibaca di dalam solat sama ada dalam tasyahud awal atau akhir.
4. Abu Bakar ibnu al-Baqir :selawat wajib dibaca tanpa mengira bilangannya.
5. Abu Bakar ar-Razi dan Ibnu Hazmin : selawat wajib dalam seumur hidup walaupun hanya sekali.
6. At-Thahawi : selawat wajib apabila seseorang mendengar orang menyebut nama Nabi Muhammad s.a.w.
7. Az-Zamakhsyari : selawat wajib dibaca pada tiap-tiap sesuatu majlis.
8. Ibnu Jarir at-Thabari : selawat kepada Nabi adalah suatu pekerjaan yang disukai sahaja.
9. Ibnu Qashshar : selawat kepada Nabi adalah suatu ibadah wajib.
WAKTU-WAKTU BERSELAWAT
1. Ketika hendak masuk dan keluar masjid
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Apabila seseorang kamu masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia membaca salam kepadaku (selawat dan salam). Sesudah itu berdoa, wahai Tuhanku, bukakanlah untukku segala pintu rahmatMu. Dan apabila ia hendak keluar hendaklah berdoa, wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu limpahan rahmatMu.” (Hadis Riwayat Abu Daud)
2. Sesudah azan
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Apabila kamu mendengar mu’azzin yang menyerukan azan, maka jawablah dengan bacaan yang sama ia baca. Setelah selesai maka berselawatlah kamu kepadaku.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Muslim)
3. Sesudah membaca tasyahud akhir dalam solat.
4. Dalam solat jenazah
5. Di antara takbir-takbir solat sunat hari raya.
6. Di permulaan dan akhir doa.
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Sesungguhnya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tiada naik, barang sedikit jua daripadanya sehingga kamu berselawat kepada Nabimu.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi)
7. Di akhir qunut dalam solat.
8. Di malam dan di hari Jumaat.
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Banyakkanlah olehmu membaca selawat di malam hari Jumaat dan siangnya kerana selawat itu dikemukakan kepadaku.” (Hadis Riwayat Thabarani)
9. Di dalam khutbah Jumaat
Dalam mazhab Syafie, para khatib wajib membaca selawat kepada Nabi Muhammad s.a.w pada permulaan khutbah, sesudah membaca tahmid dan juga sebelum akhir khutbah Jumaat.
10. Ketika berziarah di makam atau kubur Nabi Muhammad s.a.w
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Tidak seorang pun di antara kamu yang memberi salamnya iaitu di sisi kuburku, melainkan Allah mengembalikan kepadaku rohku untuk menjawab salamnya.” (Hadis Riwayat Abu Daud)
11. Sesudah bertalbiah
Sabda Rasululullah s.a.w :
“Memang disuruh seseorang membaca selawat untuk Nabi ketika ia telah selesai talbiahnya dalam segala keadaan.” (Hadis Riwayat Syafi’I dan Daraquthni)
12. Ketika siap mengadakan majlis atau keramaian
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Tiadalah duduk suatu kaum di dalam sesuatu majlis, sedang mereka telah menyebut (mengingati) Allah SWT dan tiada berselawat ke atas Nabinya, melainkan menderita nescaya Allah akan menyiksa mereka dan jika Allah mengkendaki nescaya akan mengampuni mereka.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi dan Abu Daud)
13. Ketika berjumpa sahabat handai atau saudara mara sesama Islam
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Tiadalah dua hamba yang saling cinta-mencintai kerana Allah yang berjumpa salah seorang yang lain lalu berjabat tangan (bersalam) dan berselawat kepada Nabi s.a.w melainkan Allah mengampuni dosanya sebelum mereka berpisah, baik yang telah lalu ataupun yang akan datang.” (Hadis Riwayat Ibnu Sunni)
14. Ketika akan memulakan sesuatu pekerjaan yang baik atau penting
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Setiap pekerjaan yang baik yang tidak dimulai dengan hamdalah (memuji Allah) dan selawat, maka pekerjaan atau urusan itu terputus dan hilang berkatnya.” (Hadis Riwayat ar-Rahawi)
15. Ketika mendengar orang menyebut nama Nabi s.a.w
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Orang yang bakhil itu adalah orang yang tidak mahu berselawat ketika orang menyebut namaku di sisinya.”(Hadis Riwayat at-Tirmidzi)
16. Ketika telinga berdengung
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Jika telinga salah seorang dari kamu berdengung, maka hendaklah ia mengingati dan berselawat kepadaku.” (Hadis Riwayat Ibnu Sunni)
17. Ketika mengalami kesusahan dan kebimbangan
18. Setiap waktu pagi dan petang
Sabda Rasulullah s.a.w :
“Barangsiapa berselawat kepadaku waktu pagi sepuluh kali dan waktu petang sepuluh kali, maka ia akan mendapat syafaatku di hari kiamat.” (Hadis Riwayat Thabarani)